FYI TRAVEL

Traveling Everydays

Breaking

Monday, 23 March 2020

17 Hari dalam Dekapan Gunung Leuser : Melintasi Sungai Krueng Baro


Sebelumnya dikisahkan, 6 orang teman kami terpisah dalam perjalanan. Hingga malam harinya, sebagian besar dari kami, tidak dapat tidur nyenyak. Karena masih memikirkan kondisi keenamnya.

Pagi harinya, pada 27 Oktober 2015, tim pencari yang telah diputuskan semalam, langsung bergerak menuju titik masing-masing, Sesuai kesepakatan, tim pencari akan kembali ke camp paling lama sekitar jam empat sore. 

Sekitar pukul 11.00 WIB, kami pun mendapat kabar baik. Salah satu tim pencari telah kembali ke camp dan menginformasikan, kalau telah bertemu 6 orang anggota tim yang terpisah di titik penyeberangan sungai Krueng Baro.

Diketahui ternyata, sehari sebelumnya, setelah terpisah, mereka sempat mengikuti rintisan jalur yang juga pernah dibuat Mr. Jalir pada tahun 2014, hingga tiba di pinggir sungai. Karena lokasinya berbeda, akhirnya keenamnya memutuskan untuk kembali ke titik semula, tempat dimana tim terpisah. Kemudian, mengikuti rintisan yang baru dibuat hingga tiba di titik penyeberangan Sungai Krueng Baro. 

Tetapi, masalah baru muncul, tim pencari lain yang dipimpin Mr. Jali, hingga menjelang senja, belum ada kabarnya. Handie Talkienya (HT) juga tidak dapat dikontak. Kekhawatiran menghinggapi kami yang ada di camp. Karena, mereka tidak membawa perbekalan makanan dan tenda atau flysheet untuk bermalam.

Setelah menunggu beberapa waktu, sekitar jam delapan malam, terdengar suara tim pencari dari HT, yang mengabarkan kalau mereka telah bertemu dan bergabung dengan tim dari Trieng Gading di titik pertemuan yang memang sudah direncanakan sebelumnya. Tim Trieng Gading membawa beberapa perbekalan dan logistik tambahan untuk kami. Informasi ini membuat kami sangat gembira. 

Menuju Desa Trieng Gading.

Esok harinya, 28 Oktober 2015, sekitar pukul 08.30, kami mulai bergerak kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat pertemuan dengan tim Trieng Gading, sesuai dengan arahan dari Mr. Jali, melali HT. Kami mengikuti rintisan jalur yang telah dibuat olehnya.

Karena lelah, sempat terjadi pertentangan dan sedikit silang sengketa dalam perjalanan. Pasalnya, ada dua pohon bertanda ‘X’. Dimana kemudian, terjadi perbimbangan diantara kami, terus lurus tetap berada di punggungan atau berbelok ke kanan menuju lembah.

Kemudian, beberapa pemandu kembali mengecek jalur rintisan baru yang ditinggalkan Mr Jali. Semua bergerak menuju arah lembah yang medannya memiliki kelerangan yang cukup curam, terjal dan licin, sampai kami tiba areal yang cukup datar, sekitar pukul 16.45 WIB. Karena hari sudah sore, kami putuskan mendirikan camp yang berada pada ketinggian sekitar 412 mdpl, untuk bermalam. Selain itu, lokasinya juga tidak terlalu jauh dari sungai.

Malam harinya, saat melakukan evaluasi perjalanan, kami ketahui, jarak tempuh sepanjang 3 km yang dilalui, pergerakannya hanya 700 meter dari titik awal perjalanan. Itu artinya, kami hanya berputar berjalan berputar-putar saja. Karena, berada di lembahan, kami tidak bisa berkomunikasi dengan Mr. Jali dan tim dari Trieng Gading. Karena sinyal radio HT terhalang oleh punggungan bukit.

Hari berikutnya, pagi sekitar pukul 08.30, perjalanan kami lanjutkan dengan melipir sungai sekitar 1.000 meter. Kemudian memotong dua anak sungai dan mendaki tebing yang cukup terjal serta berbatu menuju atas punggungan agar kami dapat berkomunikasi dengan tim Trieng Gading. Saat siang hari, diketahui kalau logistik kami semakin menipis.

Kami terus bergerak, melakukan orientasi medan untuk menentukan jalur yang akan kami lalui. Hingga waktu menunjukkan jam empat sore, kami masih belum menemukan tempat dimana tim Trieng Gading menunggu. Kemudian, kami terus berjalan mengikuti punggungan. Lalu, menuruni tebing batu yang curam dan cukup licin, ketika sudah gelap. Untuk keamanan dan keselamatan, kami memasang webbing sebagai alat bantu. Sekitar pukul 19.00 WIB, kami memutuskan untuk kembali bermalam mendirikan camp pada ketinggian 447 mdpl, dengan membuat flysheet sebagai pelindungnya.

Esok harinya, kami bergerak lebih pagi. Waktu menunjukkan sekitar pukul 07.30 WIB, saat kami meninggalkan camp menuju Sungai Krueng Baro. Setelah mendaki mengarah ke atas punggungan dan turun kembali, akhirnya sekitar jam sembilan pagi, kami tiba di pinggir Sungai Krueng Baro. Pada sisi lain di seberang sungai, terlihat Mr. Jali dan tim Trieng Gading sudah menunggu.

Untuk menyeberang sungai yang aliran airnya cukup deras dan dalam ini tidaklah mudah. Untuk keamanan dan keselamatan, tim Trieng Gading telah memasang webbing sebagai alat bantunya.

Karena curah hujan yang cukup deras dua hari sebelumnya, membuat debit air Sungai Krueng Baro menjadi lebih deras. Kemudian, diputuskan untuk memindah tali penyeberangan sedikit ke hulu. Alasannya, arus air sudah yang tidak terlalu deras. Lalu, satu persatu, kami menyeberangi sungai yang lebarnya lebih dari 10 meter tersebut. Tepat pukul 11.30 WIB, seluruh anggota tim, berhasil tiba di seberang sungai dan berkumpul dengan tim Trieng Gading.

Setelah makan siang, kami kembali melanjutkan perjalanan mendaki menuju camp selanjutnya, Puncak Impian yang berada di ketinggian 1.438 mdpl. Medan pendakiannya terus menanjak, namun cukup jelas, karena memang merupakan jalur yang biasa dilalui penduduk lokal ketika masuk ke hutan.

Sepanjang perjalanan tersebut, ada beberapa hal yang menjadi catatan. Kami menjumpai beberapa jerat satwa dan bekas camp. Bahkan, ada bekas satwa, yang kemungkinan sisa satwa beruang madu pada salah satu jerat. Artinya, pada wilayah tersebut terdapat aktivitas perburuan satwa liar.

Harapan kami, pembukaan jalur pendakian melalui jalur ini ke depan, dapat menghentikan aktivitas perburuan satwa liar tersebut. Kemudian, dapat meningkatkan perekonomian masyarakat lokal dengan cara menjadi pemandu atau porter pendakian. Sehingga keanekaragaman hayati yang ada di dalam kawasan tetap dapat terjaga dan lestari.

Waktu telah menunjukkan sekitar pukul 21.30 WIB, saat kami tiba di Camp Puncak Impian. Flysheet dan tenda serta logistik sudah disiakan oleh tim Trieng Gading dan anggota tim Kedah yang telah tiba lebih dulu.

Pada 31 Oktober 2015, menjadi hari ke-17, perjalanan kami membelah belantara TN Gunung Leuser, mulai dari Kedah, Gayo Lues hingga Trieng Gading di Aceh Barat Daya. Pagi hari itu, kami bangun lebih bersemangat lagi. Karena, ini akan menjadi akhir perjalanan panjang kami. Perjalanan kami lanjutkan dengan melalui punggungan dan jalur umum yang biasa digunakan penduduk lokal.

Sekitar pukul 15.00 WIB, kami pun tiba di Krueng Genderang dan menyusurinya. Ini merupakan sungai terakhir sebelum Desa Trieng Gading. Kami sempatkan untuk beristirahat sejenak untuk sedikit memulihkan tenaga, sebelum kemudian sekitar jam sembilan malam kembali melanjutkan perjalanan menuju titik penjemputan. Terlihat di kejauhan cahaya lampu 4 buah mobil telah menunggu untuk membawa kami menuju lokasi penyambutan.

Ritual Peusijuk di Desa Trieng Gading.

Rasa lelah yang teramat sangat, seolah langsung sirna, begitu kami melihat pesta peyambutan yang walaupun sederhana, namun terlihat luar biasa. Dari berbagai lapisan masyarakat memberi salam kepada kami semua, seperti menyambut kedatangan orang-orang yang selamat dari medan pertempuran.

Begitupun sambutan dari unsur Muspida Kabupaten Aceh Barat Daya dan Muspika Lembah Sambil; Kadis Kehutanan Aceh Barat Daya, Camat Lembah Sabil, Kapolsek, Danramil, Kepala SPTN I Blang Pidie, panitia Expedisi Leuser 2015 dan SAR Blang Pidie.

Secara khusus Cama Lembah Sabil secara simbolis mengucapkan selamat datang. Beliau juga menaruh harapan besar agar kedepan jalur pendakian dari wilayah Trieng Gading dapat ditingkatkan dan kembangkan untuk wisata minat khusus pendakian jalur alternatif lain menuju puncak Leuser dan puncak Loser.

Kemudian, seorang tokoh adat Desa Trieng Gading melakukan upacara ‘Peusijuk’, sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan tim Expedisi Leuser 2015 sehingga dapat kembali dengan selamat. Bagi masyarakat Aceh, upacara ini merupakan salah satu prosesi adat yang sudah berlangsung turun menurun. Biasanya dilakukan untuk memohon keselamatan, ketenteraman dan kebahagiaan dalam kehidupan. Dilakukan hampir pada semua kegiatan adat masyarakat Aceh, seperti pernikahan, syukuran dan lain-lain.

Keberhasilan Expedisi Leuser 2015, kemudian diakhiri dengan makan bersama dengan seluruh lapisan masyarakat.

Artikel ini sudah terbit melalui platfrom Kumparan.com dengan judul "17 Hari Mendaki, Membelah Belantara Taman Nasional Gunung Leuser (Bagian 3)", oleh penulis Harley B Sastha.

No comments:

Post a comment