FYI TRAVEL

Traveling Everydays

Breaking

Tuesday, 24 March 2020

Cerita Pasang Surut Brand Lokal Alpina Outdoor

Badai krisis moneter yang melanda Indonesia pada tahun 1998, berdampak juga pada semua sektoral termasuk brand lokal alat-alat olahraga luar ruangan, Alpina atau kepanjangan dari Alam Pegunungan Indonesia yang pernah berjaya pada era 90'. Saat itu Alpina tergerus, tersisa tinggal 25 persen, ditambah penurunan kurs rupiah yang sempat menyentuh nilai terendahnya Rp 16.650 per dolar AS. Sementara, produk outdoor buatan luar negeri mulai masuk dengan jumlah cukup besar.

Toko Alpina mulai dikurangi satu per satu. Bisnisnya stagnan dan tersisa hanya satu outlet di kawasan Cisitu Lama, Dago, Kota Bandung. Penjualan barang hanya seadanya. Bahkan pada 2007, di Outlet Alpina tidak banyak barang yang dijual. Kebanyakan masih sisa produksi lama. Sejak saat itu, penjualan dilakukan seadanya saja.

Namun harapan mulai muncul, Bisnis Alpina bergeliat lagi mulai tahun 2010. Penjualan kembali ramai, meskipun banyak brand lokal baru dan produk impor, Alpina masih banyak peminatnya, terutama para pecinta olahraga alam era 90-an. Mereka seperti bernostalgia dengan produk Alpina.

Dikutip dari Kumparan.com, Paidjan Adriyanto (67) selaku pemilik mengaku pendapatan Alpina kini sudah mulai stabil. Per bulannya mencapai Rp 1 miliar hingga Rp 1,5 miliar. Dalam era digital saat ini, Alpina tak perlu membuka outlet di setiap daerah seperti tiga dekade silam. Cukup menjual melalui platform marketplace.

Dia melibatkan anak keempatnya yang lebih paham tentang teknologi. 60 persen penjualan Alpina saat ini berasal dari online, bukan offline dengan para pembeli datang ke outlet. Selain itu, dia mengandalkan para reseller yang kini jumlahnya 15 orang.

Yanto mengaku cukup bangga karena produknya masih diminati masyarakat. Adapun penjualan secara online mulai dirintis pada tahun 2016 dan mulai berkembang hingga sekarang. Melalui online pula, dia berani bersaing dengan produk kekinian yang marak tersebar.

"Sekarang dialihkan penjualan ke online. Toko-toko yang akhirnya udah habis kontraknya enggak saya perpanjang. Sekarang buka online saja. Reseller saya sudah cukup banyak. Jadi 60 persen penjualan itu dari online," tutur dia.

Terkait produk yang dijadikan unggulan, Yanto mengaku bergantung musim. Apabila musim hujan, dirinya akan memproduksi lebih banyak jaket dan jas hujan. Namun, dia mengakui produk yang paling diminati yaitu celana lapangan. Menurut dia, celana lapangan yang diproduksinya dikenal memiliki daya tahan yang kuat. Sementara, tas atau day pack sulit diunggulkan karena persaingan pasar begitu ketat.

"Kalau celana kan hanya dikit yang bikin dan terkenal celana saya sangat kuat. Itu aja. Sama jaket dan jas hujan itu bahannya masih dari luar. Itu masih jadi unggulan," ucap dia.

Harga produk yang dijualnya juga masih terjangkau, berkisar Rp 100 hingga 400 ribu. Sementara jumlah karyawan kini hanya berjumlah 40 orang saja.

Usia Yanto kini memang sudah senja. Ambisinya tak lagi muluk-muluk ingin membuat Alpina kembali berjaya seperti di masanya dulu. Yanto, yang kini juga memiliki bisnis lain di bidang obat-obatan, minimarket, hingga properti, mengaku hanya ingin produk tetap dicintai konsumen.

"Tidak seambisius dulu, yang penting produk Alpina masih bisa bersaing di pasaran," katanya

Dulu, Yanto menceritakan kenangan Alpina tak lepas dari toko peralatan olahraga luar lapangan sebelumnya Jayagiri Outdoor tempat bekerjanya dulu. Setelah keluar dari Jayagiri, kemudian mendirikan Alpina dengan uang sisa gaji yang diterima. Yanto bersama istrinya sempat mengeluh, namun pada tahun keempat mulai ada progres sampai berada dititik keemasan hingga bisa bertahan pada saat ini.

"Ternyata tahun keempat agak bergerak dan tahun 1990 Alpina booming. Kami kewalahan karena sudah mulai tren. Nah, kota besar pulau Jawa, provinsi dan kabupaten kami bisa suplai. Kami berkembang." kenangnya.

Sumber : Kumparan.com
Foto : Alpina Outdoor

No comments:

Post a comment