FYI TRAVEL

Traveling Everydays

Breaking

Sunday, 22 March 2020

Garut, Kenapa Namanya Garut?


Setiap kota di Indonesia memiliki cerita yang unik. Baik dari segi perkembangan fisik maupun masyarakatnya. Termasuk Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Secara historis, Garut merupakan bagian dari wilayah yang disebut Belanda sebagai 'Preanger'. Sebutan yang kemudian lebih dikenal dengan istilah 'Priangan' yang berarti wilayah bergunung-gunung.

Di masa kolonial, Preanger mencakup Kabupaten Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Cimahi, Bandung, Cianjur, Sukabumi, dan Bogor. Kebanyakan penduduknya, berprofesi sebagai petani.

Kunto Sofianto dalam bukunya Garoet Kota Intan (2001) menulis, awal mula nama Garut muncul pada 16 Februari 1813. Saat itu, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Thomas Stamford Raffles menerbitkan surat keputusan mengenai pembentukan Kabupaten Limbangan. Ibu kota Limbangan saat itu bukan Garut, melainkan Suci.

Namun, karena Suci terlalu sempit, Bupati Limbangan kala itu, Adipati Adiwijaya membentuk tim guna mencari tempat cocok sebagai ibu kota kabupaten. Di pencarian pertama, tim pencari menemukan wilayah Cimurah yang berupa dataran berjarak 3 km sebelah timur Suci.

Karena di lokasi itu air bersih sulit diperoleh, maka tak jadi dipilih. Tim pun mencari ke arah barat sejauh lima kilometer dan menemukan mata air yang jernih. Alirannya mengular ke Sungai Cimanuk dengan pemandangan yang indah. Lokasi itu dikelilingi gunung-gunung seperti Cikuray, Papandayan, Guntur, dan Karacak. Ada juga sebuah kawah bernama Talaga Bodas.

"Saat itu panitia menemukan mata air telaga kecil yang tertutup semak belukar berduri (marantha). Salah seorang panitia pribumi ada yang kakarut (bahasa Sunda tergores, -red) tangannya hingga berdarah," tulis Kunto dalam bukunya yang dikutip kumparan, Selasa (22/1).

Seorang Belanda yang turut dalam rombongan kemudian bertanya ke si pribumi yang tangannya berdarah itu. Dia pun menjawab 'kakarut'. Si Belanda yang lidahnya tidak fasih mengucap kata bahasa Sunda, mencoba meniru. Namun, yang terlontar malah 'gagarut'.

Sejak itulah, tanaman belukar tersebut dinamakan “ci garut” yang menginspirasi panitia untuk menamakan wilayah indah itu dengan sebutan Garut. Saat menerima laporan dari tim pencari, Bupati Adiwijaya setuju menjadikan Garut sebagai ibu kota Kabupaten Limbangan.

"Pada tanggal 1 Juli 1913, berdasarkan surat keputusan Gubernur Jenderal 7 Mei 1913 No. 60, nama Kabupaten Limbangan diganti menjadi Kabupaten Garut," tulis Kunto.

Setelah itu, Garut kemudian berganti bentuk. Dari yang tadinya linear menjadi konsentris. Berbagai fasilitas kota pun mulai dibangun. Antara lain, stasiun kereta api, kantor pos, apotek, sekolah, dan hotel.

Sebenarnya, jalur kereta api yang menghubungkan Bogor, Sukabumi, Bandung, Banjar, hingga Pangandaran sudah dibangun bertahap sebelumnya. Ibnu Murti, sejarawan Universitas Indonesia yang mendalami perkeretaapian menyebut, jalur yang dibuka tahun 1884-1894 itu, ditujukan sebagai fasilitas wisata bagi orang-orang Eropa.

Cerita tentang Garut yang terdiri dari kebun-kebun teh dan sungai yang mengalir bersih kemudian bergema sampai mancanegara. Bermula dari mulut orang-orang Eropa seperti Belanda, Inggris, Italia, dan Jerman. Mereka membuka perkebunan di wilayah Cilawu, Cisurupan, Pakenjeng, Cikajang, Cisompet, Cikelet, dan Pamengpeuk pada periode 1900-1928.

Pembangunan perkebunan itu diikuti dengan pembangunan hotel di daerah Garut mulai tahun 1917. Beberapa di antaranya, Hotel Papandayan, Belvedere, Vila Dolce, Van Hengel, dan yang juga melegenda Hotel Ngamplang di Cilawu.

"Ketika para pekerja itu pulang ke negaranya masing-masing, berceritalah mereka soal keindahan pemandangan Garut. Sehingga pada masa itu wisatawan yang datang ke Garut khususnya dari Eropa terus meningkat," kata pemerhati sejarah lokal Jawa Barat, Irfan Maulana, saat berbincang dengan kumparan, Senin (21/1).

Tempat-tempat seperti Kawah Papandayan, Kawah Kamojang, Kawah Manuk, Kawah Talaga Bodas, Situ Bagendit, Situ Cangkuang, Gunung Cikuray, Gunung Guntur, dan Pantai Pamengpeuk menjadi daya tarik wisata di Garut bagi orang Eropa. Mereka ingin menikmati hijaunya alam yang tak didapat di Eropa sana.

Bukan cuma alamnya yang jadi daya tarik bari orang Eropa. Tapi juga satwa yang hidup di dalamnya. Periode 1920-1930-an, masih banyak ditemukan macan loreng, macan kumbang, badak, banteng, babi hutan, burung merpati liar, anjing hutan, dan buaya sekitar 20 mil ke arah selatan Garut. Para wisatawan pun diperbolehkan untuk memburu hewan-hewan tersebut.

Satu lagi yang menjadi penarik wisatawan adalah tradisi 'adu domba'. Tradisi mengadu dua ekor domba ini merupakan hal yang unik bagi para wisatawan.

"Selain karena keindahan Garut, komedian asal Inggris, Charlie Chaplin, datang ke Garut juga karena adanya tradisi adu domba," ungkap Irfan.

Sumber : kumparan.com

No comments:

Post a comment