FYI TRAVEL

Traveling Everydays

Breaking

Tuesday, 31 March 2020

Kala Raja Sunda Mendamaikan Sriwijaya dan Kalingga


Sepeninggalan Raja Tarumanagara ke-12 Linggawarman. Sri Maharaja Tarusbawa sebagai penggatinya (menantu Linggawarman) memiliki tugas, harus mengembalikan kejayaan kerajaaan Tarumanagara seperti masa raja Punawarman.

Pada masa awal pemerintahannya terasa sangat berat, Tarusbawa memindahkan ibu kota kerajaan dari Sundapura (Bekasi) ke Pakuan (Bogor). Di salah satu tanah, Tarusbawa mendirikan lima keraton, yang bangunannya dan besarnya sama juga posisinya sejajar. Keraton itu masing-masing diberi nama, Punta, Narayana, Madura dan Suradipati.

Kemudian Tarumanagara berganti nama dan terbagi menjadi 2 ; Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh, karena efek protes dari Wretikandayun sehingga ia (Wretikandayun) menyatakan kemerdekaan Kerajaan Galuh (Kendan) dari kekuasaan Kerajaan Sunda (Tarumanagara).

Sri Maharaja Tarusbawa memiliki pribadi yang cinta damai, ia buktikan dengan tidak ingin ada sengketa dengan Wretikadayun, walaupun Kerajaan Sunda belum tentu kalah ketika perang melawan Kerajaan Galuh. Prinsipnya lebih baik memimpin setengah negara tangguh daripada harus memaksakan memimpin satu negara penuh dengan keadaan yang belum tentu.

Jiwa penyabar dan cinta damai yang dimiliki Tarusbawa terus berlanjut, kali ini lebih kompleks, Ia harus sebagai mediator antara kerajaan Sriwijaya dan Kalingga yang kian memanas.

Tatkala Raja Sriwijaya, Sri Jayanasa sempat ingin meminang Ratu Shima (Ratu Kalingga) namun ditolak (dikutip Koransulindo.com) karena sakit hati atas penyerangan Sriwijaya terhadap Melayu, yang merupakan kerabat Kalingga mengingat Ratu Shima, menurut sebuah pendapat Sang Ratu dan ibunda Kartikeyasinga berasal dari wilayah Kerajaan Melayu Sribuja yang beribu kota di Palembang.

Mengantisipasi ancaman Sriwijaya, Kalingga menggandeng Kerajaan Galuh Purba dan menguatkannya menjodohkan anaknya Parwati dengan putra bungsu Raja Galuh Wretikandayun yang bernama Mandiminyak.

Ketegangan antara Sriwijaya dan Kalingga semakin meruncing sehingga keduanya sudah mempersiapkan pasukan dalam jumlah besar namun diakhir cerita masih dapat dilerai oleh Sri Maharaja Tarusbawa dari Kerajaan Sunda, sebagai sahabat dan kerabat sehingga Sri Jayanasa mengurungkan niatnya menyerang Kalingga, karena Kalingga adalah kerabat Kerajaan Sunda.

"Jangan timbul kesan gara-gara pinangannya ditolak Sriwijaya harus berperang dengan Kalingga. Jayanasa terpaksa mendengar keberatan Tarusbawa yang notabene adalah saudaranya." tulis Koran Sulindo.

Sebelumnya, Kerajaan Sunda dan Sriwijaya memiliki hubungan sangat mesra, sama-sama sebagai menantu Maharaja Linggawarman. keduanya membuat langkah diplomatik dalam sebuah prasasti yang ditulis dalam dua bahasa, Melayu dan Sunda, jalinan persaudaraan dan persahabatan kemudian dikenal dengan istilah Mitra Pasamayan. Inti isi perjanjiannya, untuk tidak saling menyerang dan harus saling membantu.

Artikel ini diambil dari berbagai sumber. Ilustrasi foto Raja Sunda dari facebook @Kerajaan Sunda Galuh.

No comments:

Post a comment