FYI TRAVEL

Traveling Everydays

Breaking

Thursday, 26 March 2020

Masyarakat Karawang Tempo Dulu, Hidup Tumbuh dan Berkembang Bersama Kereta Api



Masa kecil anak-anak Karawang tumbuh bersama kereta. Dalam ingatan mereka, kereta api bukan sekadar alat transportasi, tapi juga sebagai arena bermain. "Kami sering ikut rombongan petani menjual hasil panen ke Rengasdengklok," kata Endang Iskandar Rachmansyah.

Laki-laki 66 tahun itu lahir dan tumbuh di belakang Stasiun Karawang hingga kini. Rumahnya hanya berjarak 400 meter dari stasiun tersebut. Sehabis pulang sekolah, ia bersama kawan-kawannya naik sepur leutik (trem yang relnya hanya 60 sentimeter). Beranjak remaja, setelah lulus sekolah dasar, ia memakai kereta untuk penghidupan.

Endang ingat, ketika berusia 15 tahun pada 1966, setiap Ahad, ia naik sepur kecil ke Rengasdengklok untuk berjualan kerupuk. Penumpang lain adalah para petani yang membawa palawija, beras, atau hewan ternak yang diikat ke tiang hingga atap. "Kereta jadi berisik sekali," ujarnya, awal September lalu.

Perjalanan dengan kereta dari Karawang ke Rengasdengklok sejauh 21 kilometer itu tertempuh selama sekitar 1 jam. Kereta TC 10 berbobot 12,7 ton itu hanya melaju maksimal 25 kilometer per jam. Kereta ini juga rel selebar 600 milimeter, dibuat Staatsspoorwegen (SS)-perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda-pada 1919.

Disebut kereta leutik-selain relnya yang 600 milimeter atau seperempat kereta rel listrik Jabodetabek-lantaran gerbongnya hanya selebar 2 meter. Lokomotif uap berbahan bakar kayu itu hanya menyeret satu gerbong yang berisi bangku jati. Menurut Endang, kayu itu dipasang berpunggungan sehingga pandangan penumpang mengarah ke luar gerbong.

Pada masanya, kereta leutik menjadi transportasi andalan masyarakat Karawang dan Rengasdengklok. Pemerintah Hindia Belanda membangun rel ini untuk mendekatkan sumber-sumber pangan ke dalam kota. Rengasdengklok salah satu lumbung padi, sedangkan Karawang dilalui jalur kereta Jakarta-Surabaya. "Zaman saya kecil saja belum ada mobil, hanya ada opelet atau delman yang tak bisa jalan jauh," kata Endang.

Trem Karawang-Rengasdengklok dibangun Belanda untuk menghubungkan rel-rel kecil yang sudah mereka bangun di daerah lain di Jawa Barat. Sebelum membangun di Karawang, mereka membangun kereta kecil di Cilamaya-Cikampek sejauh 28 kilometer pada 1909. Tujuh tahun sebelumnya ada jalur Cikampek-Wadas sejauh 16 kilometer. Jalur ini menjadi komuter setelah Karawang-Wadas terhubung oleh rel sepanjang 15 kilometer pada 1920.

Ada tujuh halte perhentian sepanjang Karawang-Rengasdengklok, yakni Cinango, Lamaran, Tegalsawah, Rawagede, Kobakkarim, Pataruman, dan Babakanjati. Di Karawang nama stasiunnya Karawang Tram, yang letaknya tak jauh dari Stasiun Karawang. Lokasi itu kini sudah menjadi menara pemancar sinyal.

Karena melintasi Rawagede, pangkalan para prajurit Divisi Siliwangi saat penjajahan Belanda, trem ini juga menjadi jalur favorit para pejuang menghadang pasukan kompeni. "Tentara sengaja memilih Rawagede karena ada kereta untuk mengangkut logistik," ujar Sukarman, penduduk Rawagede yang orang tuanya menjadi korban pembantaian pasukan Belanda pada 1947.

Saat agresi militer Belanda pertama pada 1947, Brigade 2 Divisi Siliwangi Tentara Nasional Indonesia bertugas menghambat pergerakan tentara Belanda yang tergabung dalam Grup Brigade 2 Divisi 7 Desember. Seperti ditulis Pierre Heijboer dalam buku Agresi Militer Belanda: Memperebutkan Pending Zamrud, Divisi 7 Desember itu hendak menuju Jawa Tengah menumpang kereta api 17 gerbong dari Bekasi.

Kereta ini akan melewati rel di Jembatan Bojong, Tanjungpura, di perbatasan Bekasi dan Karawang. Dari Stasiun Karawang jaraknya sekitar 7 kilometer ke arah barat. Jembatan ini tidak dilalui jalur trem Karawang-Rengasdengklok, tapi dilewati jalur kereta besar ke arah Cipinang.

Angkatan Udara Belanda membuat Tentara Nasional susah mendekati jembatan. Karena itu, tulis Heijboer, mereka menemukan cara lain: mengirim lokomotif kosong dengan kecepatan tinggi untuk ditabrakkan ke kereta Belanda itu. Dalam serangan ini, tentara kita kalah siasat karena, ketika lokomoti

kosong dengan kecepatan tinggi untuk ditabrakkan ke kereta Belanda itu. Dalam serangan ini, tentara kita kalah siasat karena, ketika lokomotif kosong itu meluncur, pasukan Belanda sedang beristirahat turun minum. Walhasil, tabrakan kereta itu tak melukai musuh.

Menabrakkan kereta kepada pasukan Belanda lalu ditiru Kapten Lukas Kustario, komandan kompi Karawang-Bekasi Divisi Siliwangi. Sukarman mendapatkan cerita ini pada 1990 ketika Lukas masih hidup. "Dia bawa kereta kosong, lalu ditabrakkan ke pasukan Belanda," katanya. "Ia melompat sebelum kereta menubruk."

Anak buah Lukas sudah menunggu momen itu. Mereka menyerbu pasukan Belanda yang kocar-kacir. Pasukan Lukas pun berhasil merebut senjata tentara Belanda. Kecerdikan Lukas membuat Belanda acap kerepotan menghadapinya. Ia pun terkenal dengan julukan Begundal Karawang. Atas nama perburuan Lukas pula Belanda membunuh 431 penduduk dalam Pembantaian Rawagede pada 9 Desember 1947.

Rute dan rel bersejarah itu kini tinggal kenangan. Rel-relnya dikubur dijadikan jalan aspal pada 1980. Kereta kalah populer ketika jalan mulai penuh oleh mobil, hasil pembangunan gaya Orde Baru yang meninggalkan kereta sebagai alat transportasi komunal.

Ketika Tempo menelusuri jalur Karawang-Rengasdengklok, hanya ada petunjuk berupa patok-patok yang menunjukkan tanah milik Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA)-sekarang PT Kereta Api Indonesia (KAI). Lokasi rel hanya bisa diduga dengan mencocokkan keterangan penduduk, seperti Endang Iskandar, dan melihat peta yang dibuat pemerintah Hindia Belanda.

Natawijaya, warga Karawang yang tinggal di pinggir Jalan Syeh Quro, mengatakan toko bahan kebutuhan pokok yang berjarak 200 meter dari rumahnya merupakan bekas stasiun kecil Lamaran. "Stasiun ini ambruk pada 1976," ujar laki-laki 60 tahun ini.

Manajer Senior Humas Daerah Operasi I PT Kereta Api Indonesia Suprapto mengakui banyak aset PT KAI berupa tanah memang ada yang digunakan penduduk setelah rel tersebut dimatikan. "Secara aturan, jika seseorang menggunakan aset tanah PT KAI, dia harus membuat perjanjian kontrak sewa-menyewa," katanya.

Seperti Endang dan Sukarman, Natawijaya juga tumbuh bersama kereta. Sewaktu remaja, ia naik kereta leutik ke Karawang, sekitar 5 kilometer dari rumahnya di Lamaran, untuk ngabuburit saat bulan puasa. Natawijaya naik kereta tanpa membayar karena tak ada pemeriksaan oleh kondektur. Ia bergabung dengan pedagang dan petani yang membawa aneka sayuran.

Stasiun Karawang Tram juga sudah tak berbekas. Endang mengatakan dulu ada dua stasiun di seberang rumahnya, yaitu Stasiun Karawang untuk kereta jarak jauh dan Stasiun Karawang Tram. Stasiun Karawang Tram kini menjadi toko bahan kebutuhan pokok. "Kereta kalah oleh mobil dan rumah," ujarnya.

Artikel ini sudah terbit di Tempo Media
Foto dari Blog.Farhanrailfans

No comments:

Post a comment