FYI TRAVEL

Traveling Everydays

Breaking

Sunday, 22 March 2020

Seba Baduy : Harmoni antara Alam dan Kearifan Lokal


Hujan baru saja reda. Tanah lembab dan udara dingin masih terasa. Cahaya matahari perlahan mulai masuk melalui celah-celah pohon yang tinggi dan rimbun.

Cicit burung, gemerisik sungai, dan suara angin, bisa didengar dan dirasa dengan jelas. Sebuah gambaran dunia jauh dari kehidupan urban. Siapa sangka, ini hanya sepelemparan batu dari Jakarta.

Mereka adalah Baduy Dalam, sebuah peradaban terpencil yang masih menjaga dan melestarikan sumber daya alam yang ada. Beberapa waktu lalu, kumparan berkesempatan mengunjungi kawasan Baduy Dalam bersama Narman, pemuda asal Baduy Dalam.

Butuh waktu tempuh selama tiga jam menuju Suku Baduy Dalam, dari gerbang utama Baduy Luar di Kampung Cisadane, Lebak, Banten. Kondisi jalanan ke sana terjal dengan beberapa genangan.

Selama di perjalanan yang dimulai pukul 09.00 WIB, tampak beberapa pria baru pulang berladang. Mereka mengenakan jamang sangsang, baju khas orang Baduy berwarna putih tanpa alas kaki. Semua berpadu dengan ikat kepala dari kain tenun. Ada yang memakai warna putih, ada juga yang berwarna biru tua.

“Arek ka mana? (Mau ke mana?),” sapa mereka ramah kepada kumparan.

Selama di perjalanan, sesekali kami harus melintasi sungai melalui jembatan yang terbuat dari kayu bambu yang merupakan ikon Baduy. Selama melintas, kami kerap bertemu warga Baduy yang bahu-membahu memperbaiki jembatan rusak. Ya, hidup bergotong royong memang begitu lekat pada warga Baduy.

Setelah melewati perbatasan antara Baduy Luar dan Baduy Dalam, modernitas ditinggalkan. Tak ada smartphone dan elektronik lainnya yang boleh digunakan di kawasan ini. Bahkan, produk kebersihan badan berbahan kimia pun tak boleh dibawa masuk.

Adat, budaya, dan tradisi yang hidup di Baduy mudah dilihat dari tiga hal utama yang kental mewarnai keseharian mereka, yaitu sikap hidup sederhana, bersahabat dengan alam yang alami, serta spirit kemandirian. Hingga kini, masyarakat Baduy berusaha tetap bertahan pada kesederhanaannya di tengah kuatnya arus ''modernisasi'' di segala sisi.

Bagi masyarakat Baduy, kesederhanaan bukanlah kekurangan atau ketidakmampuan, tetapi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari arti kebahagiaan hidup sesungguhnya. Segala hal yang alami dan berhubungan dengan alam adalah sahabat bagi masyarakat adat Baduy.

"Ketika bertelanjang kaki, kita akan menyatu dengan alam. Harapannya, jiwa itu dekat dengan alam, kita tahu alam seperti apa. Ketika dia menangis, merintih kesakitan, kita tahu," kata Narman.

Menurut tokoh adat Baduy Dalam, Ayah Mursid, orang Baduy lebih yakin dan nyaman melekatkan identitasnya dengan tanda-tanda alam, di mana mereka tinggal dan hidup darinya. Itu terlihat dari lokasi di mana mereka tinggal, bagaimana mereka hidup, dan cara menata kehidupannya.

Lingkungan tempat mereka tinggal benar-benar tidak terjangkau oleh transportasi modern, dan tempat terpencil di tengah-tengah bentang alam pegunungan, perbukitan rimbun serta hutan, lengkap dengan sungai, juga hamparan kebun dan tanah ladang.

“Kalau bicara kami, keukeuh ini suatu kewajiban untuk mempertahankan nilai-nilai, mempertahankan tradisi supaya tetap lestari, tetap terjaga keaslian, dan tetap menjaga nilai-nilai yang diamanatkan leluhur merupakan kewajiban masyarakat adat dan lembaga adat untuk mempertahankan nilai-nilai itu,’’ ujar Ayah Mursid.

Kehidupan masyarakat Baduy masih didominasi oleh pemakaian sarana dan prasarana yang serba alami, serta sederhana. Pada malam hari, mereka hanya memanfaatkan lampu minyak tanah atau minyak kelapa. Bukan karena tak mampu membayar listrik, tapi lebih kepatuhan kepada adat yang dijunjung.

Sampai saat ini, masyarakat Baduy tidak memperbolehkan aliran listrik masuk ke wilayahnya, karena dianggap tabu. Untuk memasak pun mereka memakai kayu bakar dan pasokannya memanfaatkan hasil kebun yang berlimpah.

Warga Baduy memiliki fisik yang bugar dan sehat, hal itu karena mobilitas warganya yang tidak mengizinkan adanya kendaraan, seperti motor, mobil, bahkan sepeda. Ke mana saja, asal masih berada di wilayah Baduy Dalam, semua orang harus berjalan kaki.

Bagi mereka, semua kenikmatan ‘’modern’’ yang ditawarkan ini sesungguhnya mengandung kekhawatiran yang berakibat merusak alam. Satu pertaruhan eksistensi dan kesetiaan terhadap pilihan hidup yang telah dipegang dan dihayati turun-temurun di beberapa generasi.

Seperti yang dikatakan Narman, pilihan hidup yang mereka pilih tidak pernah membawa masalah besar bagi kehidupan keseharian yang selama ini berjalan normal. Tanpa ada gangguan atau gejolak yang berarti. Cukup sejahtera dan tenteram dalam pelukan alam.

“Jadi segala bentuk kemajuan modern di samping kemudahan-kemudahan hidup yang dibuat oleh orang-orang kota itu semuanya merusak. Dari awal, dari nenek moyang ini sudah disepakati bahwa tujuannya itu bukan untuk menikmati kemajuan oleh orang luar. Tapi, kita harus tegas bahwa ada sisi lain yang harus dijaga, yaitu bagaimana menjadi manusia yang benar-benar mencintai alam tanpa kepentingan apa pun,” tutur Narman.

Masyarakat Baduy yang demikian bijak dalam berinteraksi dengan alam tak terlepas dari filosofi yang selalu ditanamkan dalam benak masing-masing individunya. Falsafah ini ditanamkan dari generasi ke generasi yang dituturkan dalam kalimat ‘’lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung (panjang tak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung)’’.

Filosofi ini mempunyai makna yang mendalam, bahwa apa yang telah diberikan oleh Tuhan terhadap manusia berupa limpahan kekayaan alam, haruslah dijaga sebagai mana adanya, tidak boleh ditambah-tambah dan tidak boleh dikurangi. Sebab, pada hakikatnya Tuhan telah memenuhi apa yang menjadi kebutuhan manusia, bukan apa yang menjadi keinginan manusia.

Perbedaan Suku Baduy Luar dan Baduy Dalam

Secara harfiah, Suku Baduy Luar dan Baduy Dalam sama-sama bagian dari kesatuan komunitas adat Baduy. Sebetulnya tidak ada yang berbeda, keduanya sama-sama tinggal dalam wilayah Baduy, ciri fisik, bahasa yang digunakan, dan mata pencaharian pun sama, yaitu bertani, berkebun, mengolah hasil hutan, dan menjual hasil buminya keluar Baduy.

Namun, seiring dengan dinamika zaman dan semakin terbukanya isolasi, pergaulan antar-komunitas menjadi jamak. Maka, terjadilah percampuran budaya, dan sebagian warga Baduy juga mengadopsi budaya luar ke kehidupan mereka sehari-hari. Berbeda dengan Baduy Dalam, Baduy Luar justru telah menerima modernisasi, seperti mengizinkan listrik masuk ke wilayah tersebut dan menggunakan telepon genggam.

Warga Baduy Luar juga cukup terbuka dalam hal mobilitas. Saat bepergian ke wilayah yang lebih jauh, mereka tidak tabu untuk mengendarai kendaraan apa saja. Dalam segi busana pun Baduy Luar memiliki perbedaan dengan Baduy Dalam. Pakaian adat sehari-harinya didominasi warna hitam dengan ikat kepala biru tua bermotif batik, baju komprang, dan celana selutut.

Sedangkan untuk perempuan, dalam kesehariannya mereka mengenakan kebaya sederhana berwarna hitam, cokelat tua, atau biru tua. Suasana kelonggaran komunitas Baduy Luar terlihat pada tampilan kesehariannya, baik ketika di rumah maupun ketika bekerja di ladang.

Pemakaian sabun, sampo, pasta gigi, dan bahan kimia kebersihan lainnya juga tidak ditabukan di Baduy Luar. Hal ini dilakukan sejak Baduy Luar terbuka dengan dunia luar, seperti pada wisatawan. Kelancaran komunikasi menjadi semakin penting, tak heran ponsel menjadi pilihan praktis. Dengan perangkat ini pula warga Baduy Luar belajar baca tulis.

Dengan demikian, komunitas Baduy Luar menjalankan fungsinya sebagai benteng sekaligus filter berhadapan dengan keagresifan budaya luar. Maka dari itu, Baduy Luar kerap disebut sebagai urang panamping yang berarti pendamping atau penyaring. Persamaan di antara Baduy Luar dan Baduy dalam adalah mereka tetap berupaya mempertahankan hidup bersinergi dengan alam ala Baduy.

“Kalau Baduy Luar sebetulnya sudah tersentuh modernisasi, lah. Sudah banyak yang pegang hp dan sebagainya. Masyarakat Baduy Luar itu beda karakternya dengan masyarakat kita (Baduy Dalam),” tutur Ayah Mursid.

Namun, aturan adat yang ketat tak membuat orang Baduy sulit mendapat penghasilan. Dari kebun Baduy Dalam, setiap harinya dapat mengeluarkan berkuintal-kuintal hasil kebun, seperti pisang, petai, durian dan gula aren. Hasil pertanian itu mengalir ke desa-desa sekitar, bahkan sampai ke RangkasBitung, Ibu Kota Kabupaten Lebak.

Mungkin, sebagian orang di pusat kota mengenal Baduy Dalam sebagai pemasok Madu Murni Alami, yang dijual ke kota-kota seperti yang sering kita lihat. Namun, ternyata menurut penuturan ayah Mursid, Madu bukanlah asli hasil kebun yang diproduksi Baduy.

“Kalau secara adat, secara mata pencaharian orang Baduy ini kan bertani, berladang, tapi juga ada sampingannya. Nah bisa itu, dari kerajinan tenun, dari madu juga, dari olah pangan yang lainnya untuk mendorong kepada perputaran ekonomi untuk dapat menghidupi keluarga. Dengan cara itulah, beda-beda.”

Suku Baduy Dalam dengan segala keunikannya membuka diri bagi masyarakat luar untuk datang berkunjung. Mereka tidak menolak kunjungan orang asing dan selalu menyambut baik kedatangan orang luar. Wisatawan yang berkunjung hanya diperboleh menginap satu malam dan tidak boleh lebih.

Hal ini merupakan salah satu cara mereka untuk membentengi diri dari dari pengaruh luar. Para tamu harus mengikuti aturan atau hukum adat yang Suku Baduy Dalam jalankan selama memasuki wilayah mereka. Menurut Ayah Mursid, meski wisatawan yang datang mayoritas hidup di zaman modernisasi, warga Baduy Dalam tetap terbuka dan menerima kedatangan wisatawan, tanpa ada rasa takut akan modernisasi yang dibawa.

“Hal itu menurut saya tidak harus (takut). Mengapa? Di mana-mana tempat kami di Baduy menentukan aturan tata tertib sama budaya,” katanya.

Kepercayaan yang Dianut Komunitas Baduy

Dalam segi kepercayaan, Baduy Dalam menganut kepercayaan Sunda Wiwitan yang memuja kekuatan alam dan arwah leluhur yang biasa disebut animisme dan dinamisme. Wiwitan sendiri berarti sebagai awalan. Jadi, Sunda Wiwitan diyakini sebagai kepercayaan masyarakat Sunda pada masa lampau.

Pada upacara khusus, warga Baduy Dalam berkomunikasi dengan Yang Maha Kuasa dengan cara membakar kemenyan. Kemenyan yang dinyalakan dipercaya menjadi medium kontak batin secara langsung. Dalam menjalani kepercayaannya, mereka menjunjung prinsip kejujuran, kedamaian, ikhlas, menjauhi rasa iri, benci, dan rasa-rasa lain yang dapat merusak kesucian jiwa. Prinsip-prinsip dan ajaran adat inilah yang menjadi pegangan hidup seluruh warga Baduy.

Sesuai hitungan kalender adat, terdapat Hari Raya Kawalu, merupakan hari raya paling utama bagi seluruh komunitas Baduy, baik Baduy Dalam maupun Baduy Luar. Perayaan hari raya ini biasa disebut dengan istilah ngawalu yang dilaksanakan pada bulan-bulan kawal, dan berlangsung selama 3 bulan. Perayaan ritual kawalu tahun ini dirayakan pada Februari hingga Mei mendatang.

Kawalu terbagi menjadi tiga, yaitu bulan Kawalu tembay (awal), Kawalu tengah, dan Kawalu Tutug yang memiliki arti besar atau penutup. Kawalu sendiri merupakan bulan-bulan paling dihormati dan disyukuri, ditandai saat padi mulai berbunga hingga masa panen usai. Rangkaian acara adat Ngawalu akan ditutup dengan Ngalaksa yang dilaksanakan pada kurun waktu tersebut.

Selama menjalani ritual Ngalaksa, setiap warga Baduy yang menjadi peserta ritual harus membawa beras yang didapat dari ladang padi atau huma. Nantinya, pada hari yang telah ditentukan diselenggarakan satu acara besar, yaitu menumbuk padi perdana secara bersama. Biasanya ritual tumbuk padi ini dipusatkan di Cibeo, Baduy Dalam.

Tumbukkan beras yang diolah menjadi tepung itu diserahkan ke palawari atau panitia untuk dibuat makanan laksa sebagai salah satu sesajen atau alat kelengkapan ritual. Acara ini merupakan penggenapan dari ritual adat simbolis sebagai doa syukur atas kesejahteraan dan keselamatan seluruh komunitas adat Baduy.

Bagian terpenting dalam ritual ini adalah pembuatan benda yang dijadikan simbol atau benda secara gender. Benda ini akan mewakili manusia secara universal. Ritual ini penting, karena ritual tersebut sejatinya adalah proses di mana masyarakat Baduy mengadakan penghitungan jumlah warga secara keseluruhan, baik itu laki-laki, perempuan, janin yang masih dikandung, serta warga masyarakat adat yang sudah keluar Baduy.

“Ngalaksa sendiri semacam sareun taun. Merayakan Akhir Masa panen, mensyukuri apa yang sudah kita terima dari alam. Tahun ini kita sudah diberikan banyak kemudahan banyak berkah, mulai dari hasil panen yang melimpah, kesehatan yang diberikan, dan hal-hal lainnya itu juga disyukuri di ngalaksa itu,” ujar Narman, penduduk Baduy Dalam.

Orang Baduy juga menaruh perhatian terhadap segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan bernegara, menghormati negara sebagai pemegang otoritas kekuasaan, dan memperlihatkan kepedulian terhadap banyak hal yang menimpa negara dan bangsa. Perhatian inilah yang akhirnya dikemas dalam sebuah tradisi bernama Seba Baduy.

Artikel ini sudah terbit di platform kumparan.com dengan judul "Suku Baduy: Tenteram dalam Pelukan Alam".

No comments:

Post a comment