FYI TRAVEL

Traveling Everydays

Breaking

Sunday, 29 March 2020

Story : Naik-Naik Ke Puncak Rinjani


Olahraga ketinggian memberikan pengalaman yang sangat berharga. Pengalaman itu, kita rekam di memori dan suatu hari nanti kita akan bercerita ke generasi selanjutnya. Seperti dua Srikandi ini yang menceritakan moment saat naik ke puncak Gunung Rinjani Lombok.

Waktu menunjukan pukul 00.00 WITA, para pendaki siap-siap bergegas menuju puncak 'Dewi Anjani' Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Setelah sarapan secukupnya, mereka mempersiapkan peralatan pendakian, pemanasan fisik dan tak lupa kekompakan tim disertai doa, kunci mereka untuk kesuksesan pendakian kali ini.

Seorang pendaki bernama Jacklyn Fiorentina pemilik akun blog Fiojacklyn membagikan kisahnya saat summit attack menuju puncak Rinjani. "Kami sengaja mencuri star dari pendaki lain karena sadar diri kecepatan dan kekuatan kami tak sebesar mereka. Dengan berbekal daypack yang berisi headlamp, air minum, sedikit snack dan tentu saja seuntai doa mengawali langkah malam itu. Rinjani tunggu kami!." tulis dalam blognya.

Perjalanan ini cukup jauh karena ketinggian Plawangan Sembalun saja sekitar 2700m, jadi masih ada sekitar 1km vertikal menuju puncak. "Tak apa 'pelan-pelan saja yang penting sampai' itulah prinsip yang selau kami terapkan selama berjalan menuju puncak. Di Rinjani banyak sekali puncak bayangan yang tentu siap menjatuhkan mentalmu. Kau pikir itu sudah puncak, setelah sampai ternyata masih ada puncak lain, begitu seterusnya. Dan yang paling menyulitkan langkah karena treknya berupa pasir. Pasir sampai akhir." tambahnya.

Namun, diperjalanan 2 orang kawan mereka memutuskan untuk tidak meneruskan langkahnya dan berbalik untuk segera turun, padahal saat itu mereka sudah diketinggian 3300mdpl, sisa 426 mdpl lagi. "Menuju puncak memang sering sekali membuat orang ingin menyerah karena kondisinya maju 2 langkah mundur 1 langkah, angin kencang dari arah depan seolah ingin mendorongmu, dan cuaca dingin yang sangat menusuk kulit." tulisnya dengan nada sedikit kecewa.

Untunglah, ada sosok yang sangat sabar mau menuntun Fio dengan tetap menarik tangannya sampai ke puncak. "Sosok Ricard, di pendakian kali ini dia adalah pahlawanku." kata Fio memuji.

Di tengah jalanpun Fio hampir menangis karena sudah tak kuat bahkan sekedar mengangkat kaki untuk melangkahpun ia sudah tak mampu.

"Terima kasih mengantarku ke puncak dewi anjani dan percayalah Tanpamu dan izin Tuhan aku tak akan sekuat itu,"

"Pukul 09.00 tepat kami  menginjakan kaki di puncak rinjani, 3726mdpl. Gunung Berapi kedua tertinggi sekaligus gunung tercantik di Indonesia, kata banyak pendaki." tutup Fio.

Sementara itu, Lala pemilik blog Kinantikamilah menggambarkan saat summit attack memasuki jalur hutan dengan vegetasi yang tidak begitu rapat. Kemudian, jalur mulai berpasir, tidak ada pepohonan yang menghalangi hembusan angin, sangat dingin.

"Saya hanya bisa fokus pada trek yang terjangkau cahaya headlamp, sejauh pandangan hanya ada jalur batu berpasir. Di jalur pendakian ini saya banyak kena PHP, asli deh, setiap akhir tanjakan rasanya seperti sudah sampai puncak, eh ternyata ada belokan ke kiri, begitu terus, nanjak-belok kiri-nanjak-belok kiri, tidak sampai-sampai." kata Lala.

Hingga pada suatu tanjakan, Lala terpisah dari rombongan, tidak bawa minum, dan kedinginan. Ia buang rasa malu, merapat ke rombongan tim lain dan minta minum, untunglah tak berapa lama ia dapat mendengar suara Nia dan Tuaq Man, senyum kembali mereka.

Sudah dua jam lebih mereka berjalan tetapi belum ada tanda-tandanya keberadaan puncak. "Saya tidak bisa berhenti, tekad satu sudah bulat, puncak harga mati! Saya kembali menarik nafas panjang, berjalan kembali, berkejaran dengan waktu terbit matahari." ucap Lala.

Akhirnya mereka tiba di titik letter E puncak Rinjani, rona langit mulai biru-kemerahan. "Ah.. kami tidak mungkin dapat menikmati sunrise dari puncak Rinjani, maka kami berhenti sejenak di jalur dengan kemiringan sekitar 50 derajat, mencari kehangatan dari sinar matahari. Sungguh, baru kali ini saya begitu merindukan pagi dan hangat matahari." ucap Lala.

Si puncak dambaan itu ternyata ada jauh diujung tanjakan berpasir. "Ya Tuhan.. Segala ekspektasi saya tentang jalur pendakian puncak Rinjani runtuh seketika, ternyata jalur menuju puncak Rinjani literally jauh, ampun deh!," kata Lala.

"Semangat Lala, semangat!" Bisik Nia.

Lala tarik nafas panjang. "Ayo dicicil, pasti bisa, selangkah demi selangkah!." ucap Lala menyemangati diri sendiri.

30 meter menuju puncak, mulut dan tenggorokan Lala kering, rasanya seperti tercekik. Air minum tim mereka telah habis, padahal kami bawa 3 botol air 1,5 liter, rasanya Lala ingin menangis karena tenggorokan yang kering total. Lala tidak tahan lagi, dengan bahasa isyarat Lala meminta minum kepada seorang pendaki asing yang lewat di depan kami, Lala tatap matanya dalam-dalam mengisyaratkan bahwa ia rasanya hampir mati kehausan, mungkin si bule kasihan kali ya lihat pemandangan yang nelangsa sekali. "Saya dikasih satu botol 1,5 liter. Kami berlima langsung rebutan minum tanpa tedeng aling-aling." kata dia sambil bersyukur.

Setelah mengumpulkan tenaga, mereka lanjutkan menggapai puncak Rinjani yang tinggal sedikit lagi. Dan akhirnya..Akhirnya!!! "Pendakian panjang selama 4,5 jam berbuah manis, sekitar pukul 07.00 pagi tim kami dapat menginjakkan kaki di puncak Gunung Rinjani, Allahu akbar!" tutup tulisan nya.

Sumber : Blog @FioJacklyin dan @KinantiKamilah
Foto : @dadanhidayat

No comments:

Post a comment