FYI TRAVEL

Traveling Everydays

Breaking

Tuesday, 21 April 2020

14 Hari Karantina Mandiri Ala Traveler

Abdullah Almabrur mengaku terpaksa mudik karena situasi nya sedang urgent. "Saya terpaksa mudik karena kontrakan rumah habis dan sudah setahun tidak pulang." ucap Mabrur yang dikutip dari Detik.com.
Karantina Mandiri/Inewsid/Antara Foto/Aloysius Jarot Nugroho
Warga dari Desa Mlese, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten ini, menyadari dengan mudik nya dia akan mengakibatkan keresahan Keluarga dan masyarakat sekitar desa dengan mewabah nya virus Covid-19. Kemudian ia berinisiatif memeriksa ke puskesmas desa dan mengkarantinakan dirinya di bantaran sungai ala-ala traveler.

“Sebelum pulang saya langsung meminta adik saya untuk mencarikan tenda,” kata Almabrur saat ditemui Solopos.com di tepi Kali Kecu, Sabtu (18/4/2020), dikutip Solopos.com.

Setiap hari kegiatan dia membersihkan bantaran sungai, ia mempunyai target akan membersihkan bantaran sungai hingga ke makam dan membuat anak tangga. Hal itu membuat warga simpati dan mengirimkan makanan.

BACA JUGA : Video : Viral Ratusan Cacing Keluar dari Tanah di Kota Solo dan Klaten

"Ini saya lakukan agar masyarakat tetap tenang ketika saya yang dari perantauan pulang. Saya datang memeriksakan kesehatan, lapor ke ketua RT, serta mengisolasi mandiri di sini. Alhamdulillah ada warga yang respect datang sekadar memberikan makanan dan minuman." urai dia.

Sikap Mambrur diapresiasi oleh kepala desa Mlese Hari Wibawa, karena jarang ada pemudik berinisiatif karantina mandiri.

"Jarang ada inisiatif semacam itu. Ingin nya kan mengedukasi masyarakat dan itu bagus." tutur Hari.

Meski begitu, Hari menyebut pihaknya telah menyediakan bangunan di belakang balai desa untuk menampung pemudik. Lokasi karantina ini juga sudah didata pemerintah.

"Kami sediakan di belakang balai desa. Sudah didata juga oleh pemerintah." sambung Hari.

 BACA JUGA : Penomena Ratusan Cacing Keluar dari Tanah. Pertanda Apa ?

Pemerintah Melarang Mudik ? 

Berdasarkan survei Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang disampaikan Presiden Jokowi, ada 68% masyarakat yang tidak mudik, 24% ingin mudik, dan 7% sudah mudik. Presiden ingin menekankan angka 24% ini masih cukup tinggi.

"Dari hasil kajian-kajian yang ada di lapangan, pendalaman yang ada di lapangan, kemudian juga hasil survei dari Kemenhub, disampaikan bahwa yang tidak mudik 68%, yang tetap masih bersikeras mudik 24%, yang sudah mudik 7%. Artinya masih ada angka yang sangat besar, yaitu 24% tadi," kata Jokowi.

Presiden, memutuskan untuk melarang mudik bagi masyarakat umum mulai tanggal 24 April 2020. Keputusan ini menindaklanjuti hasil rapat terbatas pada Selasa (21/4) yang di sampaikan Presiden Jokowi.

Sebelumnya, larangan mudik ini berlaku bagi TNI-Polri dan ASN.

Sumber : Detik.com , Solopos.com

No comments:

Post a comment