FYI TRAVEL

Traveling Everydays

Breaking

Monday, 27 April 2020

Berkah Semburan Abu Vulkanik Gunung Api Karangetang

Gunung Api Karangetang di Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Selawesi Utara, menunjukan peningkatan aktivitas vulkaniknya. Gunung yang berada di 2 .78°LU, 125.406°BT dengan ketinggian 1784 mdpl (meter diatas permukaan laut) teramati kepulan asap di kawah utama berwarna putih sekitar 300-500 meter.
Foto dari instagram @makarijositaro
"Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 300-500 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah barat daya. Suhu udara sekitar 26-28°C," tulis Magma Indonesia, Kementerian ESDM, pada Senin , 27 April 2020.

Semburan abu vulkanis dari gunung api Karangetang diyakini membuat perkebunan di Kepulauan Siau sangat subur. Kesuburan tanah di Pulau Siau berkaitan dengan keunggulan Pala (Myristica Fragrans) yang menjadi komoditi utama di Kepulauan Siau.

BACA JUGA : Sambut Ramadhan, Muslim Lembah Baliem Bakar Batu

"Semburan itu berdampak pada struktur tanah vulkanis yang mengandung fosfor, kalsium, kalium, dan magnesium yang sangat cocok bagi jenis tanaman keras seperti pala. Tidak heran jika produksi pala di sekitar Gunung Karangetang menjadi sangat baik dan menjadi produk pala organik," tulis Jalur Rempah Nusantara.

Menurut Mongabay Indonesia dalam tulisan edisi 'Siau, Surga Tersembunyi di Sulawesi Utara', pala Sitaro pada tahun 2007 mencapai 1,66 juta ton yang dihasilkan dari lahan tanaman pala sekitar 3000 hektare.

Asal-muasal kemunculan tanaman pala secara historis ketika para pendahulu di Kepulauan Siau sering berdagang sampai ke wilayah Kerajaan Ternate, saat itu mereka pulang membawa bibit pala, kemudian bibit pala itu ditanam disekitar wilayah kaki gunung api Karangetang.

"Tanaman pala Siau tidak terlepas dari pala yang tumbuh di Kepulauan Banda, Maluku. Dari sejumlah literatur disebutkan, tanaman pala di Kabupaten Kepulauan Sitaro, termasuk Pulau Siau, masuk melalui hubungan dagang dengan Kerajaan Ternate. Leluhur orang Sitaro dahulu sering berlayar ke Ternate untuk berdagang dan ketika pulang mereka membawa bibit pala." tulis Jalur Rempah Nusantara.

BACA JUGA : Polisi Halau 1 Bus Berisi Pemudik dan Dipaksa Putar Balik

Dalam buku Persyaratan Indikasi Geografis Pala Siau disebutkan, Kerajaan Siau didirikan pada 1510 oleh Raja Lokongbanua II (1510-1549). Pada kurun waktu tertentu, kerajaan ini sempat tunduk dan menjadi bagian wilayah Kesultanan Ternate. Keadaan ini diduga berpengaruh terhadap mobilitas penduduk dari Pulau Siau ke daerah Maluku dan sebaliknya. Bibit tanaman pala menjadi bagian barang yang dibawa ketika pulang dari Ternate dan kemudian ditanam di pulau tersebut. Dalam perkembangnya, pala yang tumbuh di Siau menghasilkan buah pala yang kualitasnya lebih baik dibandingkan pala tempat asalnya.

Pala Kepulauan Siau Terbaik Didunia

Kepala Kerjasama Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, Brunei Darussalam, dan ASEAN, Franck Viault, menuturkan bahwa pala bahkan memainkan peran penting dalam perdagangan bilateral antara Indonesia dan Uni Eropa. Tak hanya digunakan untuk memasak tapi juga dalam industri lain, seperti kosmetik dan kesehatan.

"Hampir semua negara di Eropa seperti Jerman dan Italia mengimpor pala dari Indonesia. Anda bisa menemukan pala di hampir seluruh dapur warga Eropa," sebutnya dikutip dari Liputan6.com

Oleh sebab itu, Uni Eropa mengharapkan Indonesia tetap memproduksi pala dengan kualitas terbaik. Sebab, permintaan rempah-rempah jenis ini di waktu mendatang tidak akan pernah surut.

"Indonesia merupakan produsen pala terbesar di dunia dan eksportir terbesar untuk pasar Eropa," ucap Viault.

"Jadi secara alami di masa depan, tidak ada alasan bagi Eropa untuk mengurangi permintaan tanaman pala dari Indonesia," katanya

BACA JUGA : Bandara Soeta Tutup Layanan Penerbangan Komersil, PT KAI : Naik 6% untuk Kereta Angkutan Barang

Keunggulan pala Kepulauan Siau yang terkenal dengan nama internasional Siau Nutmeg antara lain karena aroma dan mutu minyak yang khas sehingga disukai oleh konsumen dalam dan luar negeri.

Pala Siau memiliki kandungan minyak terbanyak dibandingkan daerah lain, yaitu 80-100 persen, sedangkan pala daerah lain 50-70 persen. Kandungan minyak asiri pada biji pala Siau mencapai 2,39 persen, sementara kandungan minyak asiri pada fulinya mencapai 17,27 persen.

Keunggulan lainnya adalah aroma dan biji pala yang hampir bulat sempurna tanpa kerut. Aroma pala Siau disebabkan tingginya zat miristisin dibandingkan dengan pala daerah lain. Zat miristisin biji pala Siau mencapai 13,19 persen, sedangkan pala Banda hanya 11 persen. Kandungan minyak atsiri pada fulinya pun terbilang tinggi, yakni mencapai 30,39 persen.

Kabid Pertanian dan perkebunan Dinas Pertanian Fonne Katuhu mengatakan faktor yang membuat hasil pala Siau berbeda karena pala tumbuh di tanah vulkanis di kaki gunung Karangetang.

BACA JUGA : Makjun, Obat Penguat Imunitas dari Jambi

"Yang tumbuh di Pulau Siau kandungan miristisinnya lebih tinggi dari yang lain. Kandungan asirinya lebih banyak. Pengolahan biasanya dari buah pala lalu bijinya langsung diekspor tanpa cangkang atau langsung dengan cangkang," terang Vone. 

Sertifikat Indikasi Geografis (SIG)

Pala Siau memang memiliki keistimewaan tersendiri. Dibandingkan pala dari daerah lain di Indonesia, kualitas dan ciri pala Siau berbeda. Saat ini pala Siau merupakan satu-satunya komoditas pala di Indonesia yang sudah mendapat sertifikat indikasi geografis (SIG), yaitu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang yang karena faktor lingkungan geografis memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan.

Janes Robby Kiwol (49) adalah seorang guru SMA yang bersahaja. Dia dianggap sebagai pahlawan karena menolak pupuk non organik (kima) yang justru dapat menghancurkan nilai ekonomis pala. Selama 3 bulan Kiwol masuk keluar perkampungan seorang diri, untuk mengabarkan para petani soal pupuk yang dipasok dari Manado.

"Sekiranya waktu itu petani terima dan menggunakannya (pupuk), maka hancurlah seluruh nilai ekonomi pala Siau. Pak bupati memahami tindakan saya. Pupuk bantuan mengandung bahan kimia yang akan merusak komposisi miristisin pala Siau," kata Kiwol.

BACA JUGA : Tradisi Ramadhan di Nusantara

Kehancuran itu pasti memukul petani pala setempat yang sebagian besar hidup dari perkebunan pala. Begitu kadar miristisinnya turun, maka pengimpor pala internasional akan menolak pasokan pala dari Pulau Siau.

Kandungan zat miristisin dalam pala Siau cukup tinggi, yakni 13,19 persen, melebihi kandungan miristisin pala Banda, 11 persen. Spesifikasi zat miristisin pala Siau itu juga berbeda dengan pala Tagulandang yang hanya berjarak 48 kilometer dari Pulau Siau. Menurut Kiwol, kandungan zat miristisin membuat pala Siau bernilai tinggi dan dicari pasar internasional.

Setelah berupaya keras, Kiwol akhirnya bisa mengantar Pala Siau mendapatkan SIG pada Februari 2016. Berangkat dari perjuangannya itu, Kiwol akhirnya dipercaya menjadi Ketua Lembaga Perlindungan Indigasi Geografis Pala Siau.

Tanaman pala Siau akhirnya menjadi satu-satunya komoditas pala di Indonesia yang mendapat pengakuan indikasi geografis atau tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang yang karena faktor lingkungan geografis memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan. Karena itu, pala Siau perlu mendapat perlindungan khusus.

BACA JUGA : 14 Hari Karantina Mandiri Ala Traveler

Produksi pala Siau rata-rata 2.000-4.000 ton per tahun. Pala Siau menjadi komoditas andalan Indonesia dan menguasai sekitar 60 persen pasar dunia. Pasar tujuan ekspor pala Siau terbesar adalah Eropa, Jepang, Korea Selatan, Vietnam, dan Singapura.

Sumber : Jalur Rempah Nusantara, Magma Indonesia, Liputan6, Mongabay Indonesia

No comments:

Post a comment