FYI TRAVEL

Traveling Everydays

Breaking

Friday, 17 April 2020

Dugaan Candi Baru di Mojokerto

Warga Dusun Bendo, Desa Kumitir temukan batu besar andesit diduga mirip candi.
Ilustrasi candi/istock
Fendi Andriyanto (26) mengaku menemukan batu besar ketika ia bersama temannya hendak menggali tanah uruk.

“Kami sedang menggali tanah uruk. Saat kami temukan posisi batu ini terbalik, bagian yang lonjong itu di bawah,” kata Fendi Kamis (16/4) dikutip dari Suara Mojokerto.

BACA JUGA : Bertambah 1, Dieng Kini Memiliki 10 Candi : Candi Kunti ?

Bedasarkan hasil pengamatan batu itu memiliki panjang 130 cm, lebar 100 cm dan tinggi 100 cm.

Temuan batu tersebut lantas dia laporkan ke Pemerintah Desa Kumitir. Lalu dia dibantu rekan-rekannya, pemuda asal Dusun Bendo ini menggali batu hingga nampak seluruh bagiannya.

Batu besar diduga candi/suara mojokerto
Sementara itu, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, Wicaksono Dwi Nugroho menduga batu besar (andesit) itu salah satu pipi anak tangga bangunan candi.

"Dibuat identik, belum bisa di pastikan pipi tangga ini disebelah kanan atau kiri." kata dia yang di kutip dari Suara Mojokerto.

Ia ber-asumsi jika pipi tangganya saja sebesar ini, candi nya juga ukurannya cukup besar.

Selain batu pipi tangga candi, juga ditemukan beberapa bongkahan batu di dalam makam umum Dusun Bendo. Sejumlah bongkahan batu itu juga komponen dari sebuah candi.

BACA JUGA : Candi Jiwa Tak Pernah Se-Keren ini

“Temuan batu di makam berupa antefiks yaitu ujung bagian atas candi juga batu-batu kotak komponen candi bagian kaki atau badan. Runtuh kemungkinan akibat gempa bumi.”
katanya.

Ia memperkirakan, bagian pondasi candi masih terpendam di dalam tanah yang kini menjadi pemakaman umum Dusun Bendo. Kedalaman bagian pondasi diperkirakan sejajar dengan titik ditemukannya batu pipi candi.

“Candi ini kemungkinan dibangun dengan kombinasi batu dan bata merah. Bata merah biasanya untuk isian dalam candi. Candi ini masih berhubungan dengan talud yang kami temukan awal Oktober 2019, talud mengelilingi candi." tandas Wicaksono.

Situs Kumitir Jatirejo
Situs Kumitir Jatirejo/radar mojokerto
Sebelumnya, BPCB Jatim, melakuakan proses ekskavasi terhadap situs Kumitir di Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto pada Oktober 2019.

Hasilnya, struktur bata merah berbentuk talud kuno atau tembok penguat tanah.

Talud diperkirakan mengelilingi sebuah kompleks bangunan suci era Kerajaan Majapahit yang dibangun pada abad ke-14 tersebut dengan kedalaman sekitar 1,5 meter. Selama 10 hari, tim ekskavasi baru menemukan satu struktur bata membentuk sudut di sisi timur laut.

Tembok ini untuk mencegah luapan banjir dari Sungai Brangkal atau Pikatan. Sebab, secara geografis posisi Situs Kumitir berada di dataran banjir Sungai Brangkal.

BACA JUGA : Kala Raja Sunda Mendamaikan Sriwijaya dan Kalingga

’’Dianggap mengganggu, maka Majapahit membuat talud supaya airnya tidak naik,’’ ujar Wicaksono Dwi Nugroho dikutip Radar Mojokerto.

Dugaan itu diperkuat dengan banyaknya material pasir, kerikil, dan bebatuan yang menimbun struktur talud. Diduga, sedimen tersebut berasal dari banjir lahar dingin Gunung Welirang dan Anjasmoro yang melalui Sungai Brangkal.

Menyusul, pada masa lalu, sungai ini letaknya cukup dekat dengan Situs Kumitir. Bahkan, Sungai Brangkal disebutnya menjadi batas alam sisi timur Kota Majapahit. ’’Sekarang bergeser sekitar satu kilometer dari Situs Kumitir." tutupnya.

Sumber : Suara Mojokerto, Radar Mojokerto, Berita Jatim

No comments:

Post a comment