FYI TRAVEL

Traveling Everydays

Breaking

Saturday, 11 April 2020

Hajat Besar Urang Baduy

Tidak memakai alas kaki kekhasan dari Suku Baduy. Dok. Seba Baduy 2018/@kamilhanif12
Seba Baduy akan digelar 29 April - 6 Mei 2020. Menurut Kepala Dinas Pariwisata Banten Eneng Nurcahyati, dipastikan event ini akan menarik.

“Seba Baduy memang menarik. Ini adalah budaya yang sangat tua dan tetap lestari hingga saat ini. Seba sendiri berarti seserahan. Produk yang diserahkan beragam hasil bumi.” ungkapnya pada selasa (11/2/2020) dikutip dari genpi.id

Eneng menambahkan Seba Baduy sebagai media komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat Urang Kanekes/Suku Baduy.

“Seba Baduy pun menjadi ungkapan rasa syukur. Ritual ini juga jadi media komunikasi dengan pemerintah,” jelas Eneng Nurcahyati.

BACA JUGA : Seba Baduy : Harmoni antara Alam dan Kearifan Lokal

Rangkaian panjang harus dilakukan masyarakat Baduy dalam tradisi ini. Sebelum Seba digulirkan, Urang Kanekes menjalankan ritual Kawalu selama 3 bulan penuh. Yaitu rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil bumi urang Kanekes.

Masyarakat umum tidak bisa masuk ke kawasan Baduy selama proses Kawalu. Karena seluruh kawasan Baduy ditutup selama acara tersebut.

Ritual Kawalu sendiri terbagi dalam 3 sesi. Nuansa religi pun semakin kental dalam ritual Kawalu ke-3. Saat itu, Urang Kanekes melakukan puasa. Ritual berbukanya pun unik, yaitu memakan daun sirih dan gambir. Kewajiban puasa berlaku bagi warga Baduy dengan usia di atas 15 tahun.

Berakhirnya ritual Kawalu ditandai dengan Ngalaksa. Ritual Ngalaksa ini merupakan aktivitas saling berkunjung urang Kanekes. Mereka pun bersilaturahmi dengan kerabat dan tetangga sembari membawa hasil bumi. Berikutnya, dilakukan dialog budaya antara urang Jero dan Baduy Pendamping dengan para panggede atau pemerintah. Inti dialognya, menjaga kelestarian alam.

BACA JUGA : Kala Raja Sunda Mendamaikan Sriwijaya dan Kalingga

Sementara itu, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menilai event Seba Baduy merupakan event besar yang menarik publik. Event ini masih memegang tradisi leluhur secara turun-temurun ditengah arus modernisasi.

“Tradisi Seba Baduy event besar. Selalu menarik perhatian publik. Wajar bila Seba Baduy selalu banjir wisatawan. Mereka tertarik karena masyarakat Baduy tetap memegang tradisi, meski modernisasi dunia berkembang pesat,” terang Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelengggara Kegiatan (Event) Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenparekraf Rizki Handayani.

Hidup sesuai tradisi, urang Kanekes memang masih memegang teguh ajaran leluhurnya. Sebab, Baduy memiliki Hukum Adat Leluhur.

Inti peraturannya, ‘Gunung Tak Diperkenankan Dilebur, Lembah Tak Diperkenankan Dirusak’. Berikutnya, ‘Larangan Tak Boleh Diubah’ dan ‘Panjang Tak Boleh Dipotong’ lalu ‘Pendek Tak Boleh Disambung’. Penutupnya, ‘Yang Bukan Ditolak Yang Jangan Harus Dilarang’. Dan, ‘Yang Benar Haruslah Dibenarkan’.

BACA JUGA : Ditengah Mewabahnya Pandemi Corona, DCF 2020 akan Tetap Berlangsung?

“Dengan menganut hukum adat, keseimbangan hidup manusia dan alam akan terus terpelihara di sana. Akan ada banyak manfaat positif yang mengalir. Serupa event Seba Baduy yang maksimal menggerakan perekonomian masyarakat. Kesejahteraan ini pun akan terus dinikmati oleh masyarakat di sana sampai kapanpun,” tutup Rizki.

Secara gambaran, event Seba Baduy ialah sebuah aktivitas saat masyarakat Baduy melakukan longmarch ke pusat pemerintahan Banten. Mereka datang membawa beragam hasil bumi yang mereka dapat selama setahun. Kegiatan ini sudah berlangsung ratusan tahun yang lalu.

Sumber : Genpi.id , Menparekraf (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif)

No comments:

Post a comment