FYI TRAVEL

Traveling Everydays

Breaking

Saturday, 25 April 2020

Makjun, Obat Penguat Imunitas dari Jambi

Makjun, obat tradisional dari Jambi yang berisi berbagai macam rempah dan tanaman obat seperti kunyit, kencur, jeringo bangle, lempuyang, temulawak, temuputih, temukunci, dan jahe. Semua bahan diiris tipis, kemudian dikeringkan selama tiga hari hingga mudah menumbuk di dalam lesung.
Nyak Nok sedang menuangkan jamu hasil racikannya (Elviza Diana/Mongabay Indonesia)
"Sekarang banyak yang mulai pesan (makjun), sejak Corona untuk ramuan kuat. Kalau biasa untuk perempuan habis melahirkan. Minum makjun ini," kata Nyang Nok, dukun di Desa Tulo, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi.

Dia meletakkan satu bungkus kecil makjun yang sudah siap ditumbuk dalam plastik bening berukuran 500 gram. Seukuran itu harga Rp 10.000.

Dari enam bersaudara, hanya Nyang Nok yang masih bertahan meneruskan tradisi pengobatan tradisional di keluarganya.

Puluhan tahun sudah dia menekuni pengobatan ala kampung. Nyang Nok menuruni bakat meramu dari neneknya.

"Nenek saya dukun juga, biasa memang begitu. Kemampuan ini turunan."

BACA JUGA : Tradisi Ramadhan di Nusantara

"Kalau makainyo, semua masih pakai obatan kampung inilah. Cuma yang dipercaya mengobati, sayo." katanya.

Nyang Nok bilang, hingga kini tanaman obat masih ada di sekitar desa mereka. Meski untuk beberapa daun sudah sulit ditemui.

Nyang Nok membatasi pembelian makjun yang dibuatnya. "Permintaanlah banyak sekarang, tapi tenago dak kuat lagi." Kata Nyang Nok.

Seorang pembeli datang ke rumah Nyak Nok. Usman mengaku sudah memesan makjun seminggu yang lalu.

"Mengambil pesanan makjun yang sudah seminggu lalu. Sudah tiga hari meriang biasa minum brotowali dan makjun manjur." kata Usman.

Jamu atau Obat Kimia ?

Sementara itu, Prof. Dr. Mustofa, Apt., M.Kes, menjelaskan bahwa perbedaan mendasar dari jamu dan obat kimia terdapat pada cara penemuannya. Menurutnya, jamu ditemukan oleh nenek moyang atas dasar pengalaman dengan lingkungan sekitarnya.

"Nenek moyang kita berinteraksi secara empiris dengan alam tempat ia tinggal. Tanpa ilmu kedokteran pada zaman dahulu, mereka mencari dari alam, entah tumbuhan, hewan atau campuran keduanya lalu diolah dengan cara sederhana sebagai bahan untuk mengobati penyakit," ujar Direktur Direktorat Penelitian UGM mungutip dari laman Ugm.ac.id

Mustofa menyebut hal itu berbeda dengan obat kimia yang ditemukan oleh para ilmuwan dengan penelitian laboratorium terstruktur dan ilmiah.

BACA JUGA : Jurus Pageblug Corona Ala Dukun Sragen

"Obat kimia dibuat dengan proses panjang dari hasil uji klinis berbagai senyawa kimia, walaupun bahannya juga diambil dari alam." tuturnya.

Akan tetapi, Mustofa menyatakan bahwa dengan perkembangan ilmu farmasi dan kedokteran, saat ini jamu sudah banyak mengalami proses pengujian baik secara klinis maupun ilmiah. Perpaduan ilmu tradisional dan modern ini menghasilkan obat herbal yang sudah banyak dikenal saat ini.

"Selain itu, berbagai obat kimia juga telah ditemukan dengan bahan dasar yang diilhami dari pembuatan jamu tradisonal, semisal aspirin,” ungkapnya di acara Sarasehan V IMBASADI pada Jumat (26/4/2019).

Sumber : Mongabay Indonesia, Ugm.ac.id

No comments:

Post a comment