FYI TRAVEL

Traveling Everydays

Breaking

Saturday, 18 April 2020

Mengarak Bendera Pusaka Kiai Tunggul Wulung

Sejarahwan asing meyakini orang-orang islam di Jawa jaman dulu memiliki kekuatan magis nan mistis.
Bendera Pusaka Kiai Tunggul Wulung/pewara.com
Pada tahun 1931, wabah Penyakit Pes menyerbu kota Kota Gedhe Jogja, saat itu orang-orang kaya lebih memilih meninggalkan rumah sementara orang miskin untuk diam.

“Sementara mereka yang kurang beruntung memilih tetap tinggal sembari berjaga setiap malam karena takut penyakit akan datang dan mengambil nyawa mereka kala mereka tengah tertidur pulas,” tulis Sejarahwan Ricklefs dikutip dari Historia.id

Menurut tulisannya, untuk mengatasi wabah pes ini Sri Sultan Hamengkubowono VIII dimohon berkenan mengarak bendera pusaka suci Kiai Tunggul Wulung.

BACA JUGA : Flu Spanyol, Ibunya Virus ?

Konon, menurutnya bendera pusaka Kiai Tunggul Wulung terbuat dari kain yang di gantung di makam baginda Rasulullah SAW.

“Bendera tersebut diyakini dibuat dari kain yang digantung di seputar makam Nabi Muhammad Saw. Di ujungnya, terdapat tombak pusaka bernama Kangjeng Kiai Slamet,” tulis Ricklefs.

Ada sumber lain menyebut bendera Kiai Tunggul Wulung terbuat dari kiswah, yaitu kain penutup Ka’bah yang setiap tahun selalu diganti.

Pada masa Sinuwun Sultan Agung, kiswah hibah dari Kesultanan Saudi Arabia itu dipusakai dan diputrani (dibuat tiruannya) oleh Sinuwun Hamengkubuwono I, sehingga menjadi Kiai Tunggul Wulung, “bendera” kiswah di atas tombak Kiai Slamet.

“’Tunggul’ artinya pemimpin ‘unggulan’, sedang ‘wulung’ berarti kecenderungan bawaan yang tersembunyi. Maka terkandung nilai dalam kirab Tunggul Wulung berarti: re-orientasi total." tulis Damarjdati Supadjar, ahli Filsafat Jawa.

BACA JUGA : Wabah Penyakit Calon Arang ?

Pada tanggal 21-22 Januari 1932, Sri Sultan Hamengkubuwono VIII menyetujui Bendera Pusaka Kiai Tunggu Wulung dan Tombak Kiai Slamet diarak keliling seputar kota  Jogja, Tidak di Kota Gedhe.

Sebelumnya pada awal abad 20 sekitar tahun 1918. Hindia Belanda (sekarang indonesia) juga pernah mengalami wabah serupa yaitu Spanish Influenza (Flu Spanyol) saat itu sedang dilanda musim kemarau panjang orang-orang banyak yang mengalami Flu sekitar 1,5 juta orang di Hindia Belanda meninggal.

Sejarawan Abdurrachman Surjomihardjo mencatat dalam Kota Yogyakarta, 1880-1930: Sejarah Perkembangan Sosial, bahwa pusaka kesultanan Kiai Tunggul Wulung diarak pada tahun periode itu (1918) -- bersamaan dengan para jagal harus memotong kerbau betina putih (kebo bule) sebelum upacara tolak bala bisa dimulai.

"Keyakinan umum, bahwa wabah itu terhenti karena pengarakan bendera pusaka-pusaka itu." tutup Ricklefs.

Asal-muasal Bendera Pusaka Kiai Tunggul Wulung

Melansir dari Pewara.com, asal-muasal bendera pusaka Kanjeng Kiai Tunggul Wulung berawal dari kisah Sultan Agung Hanyokrokusumo semasa memerintah Kerajaan Mataram pernah berkeinginan bila  meninggal dunia jasadnya dimakamkan di dekat Masjid Mekah. Tapi keinginan Sultan Agung itu ditolak oleh Khatib Masjid Mekah, Syeh Imamn Sufingi, dengan alasan ia keturunam manusia dan jin. Menurut Syeh Imam Sufingi, keturunan campuran manusia dan jin tidak pantas dimakamkan dekat masjid yang diagungkan dan dimulyakan di Mekah.

BACA JUGA : Foto : Flu Spanyol 1918

Sultan Agung kecewa dan marah atas penolakan Syeh Imam Sufingi tersebut. Di dalam kekecewaannya, Sultan didatangi Ratu Kidul sebagai penguasa di Kerajaan Laut Selatan. Ratu Kidul menyarankan Sultan Agung untuk membalas rasa sakit hatinya itu dengan mengirimkan bencana penyakit ke Mekah. Setelah disetujui Sultan Agung, balatentara Kerajaan Laut Selatan diberangkatkan menuju Mekah dipimpin  Nyai Rara Kidul dan Nyai Kidul untuk menebarkan bencana wabah penyakit menular.

Banyak penduduk kota Mekah yang menjadi korban dari bencana penyakit menular itu. Melihat hal tersebut Imam Sufingi menjadi resah dan cemas. Ia pun kemudian bertanya perihal penyakit menular itu kepada Sunan Kalijaga yang khusus datang dari Jawa untuk melaksanakan ibadah sembahyang Jumat di Masjid Mekah. Sunan Kalijaga kemudian menceritakan sebab-musabab wabah penyakit menular.

Menyadari hal itu, Syeh Imam Sufingi meminta bantuan Sunan Kalijaga untuk meminta maaf kepada Sultan Agung. Permohonan maaf itupun kemudian disampaikan Sunan Kalijaga kepada Sultan Agung. Berkat nasihat dan petunjuk Sunan Kalijaga, Sultan Agung pun kemudian menerima permintaan maaf Imam Sufingi..

BACA JUGA : Mengenal Sosok Ronggowarsito yang Disebutkan Sri Sultan HB X dalam Pidatonya

Atas kesediaan Sultan Agung memberikan maaf, Syeh Imam Sufingi lalu bermaksud akan menghadiahkan kepada Sultan sehelai kain bekas sorban Nabi Muhammad SAW. Sunan Kalijaga lalu pulang ke Jawa menjemput Sultan Agung untuk menerima hadiah kain sorban  di Mekah.

Setibanya di Mekah, Sultan Agung menerima pemberian hadiah kain bekas sorban Nabi Muhammad tersebut langsung dari Syeh Imam Sufingi. Penyerahannya berlangsung di dalam Masjid Mekah. Setelah itu Sultan Agung membawa kain bekas sorban itu keluar dari masjid dan mengibar-ngibarkannya seperti layaknya bendera.

Ketika mengibar-ngibarkan kain bekas sorban Nabi itu, Sultan Agung lalu berseru kepada Nyai Rara Kidul dan Nyai Kidul untuk membawa pulang balatentaranya meninggalkan kota Mekah.. “Nyai Rara Kidul, begitu melihat kain bekas sorban Kanjeng Nabi Muhammad kukibar-kibarkan seperti layaknya bendera pusaka Keraton, maka segera tinggalkanlah kota Mekah ini,” seru Sultan Agung.

Seketika itu pula kota Mekah terbebas dari bencana wabah penyakit menular. Dan, oleh Sunan Kalijaga kain bekas sorban Nabi Muhammad itu diberi nama Tunggul Wulung

Sumber : Historia.id , Pewara.com

No comments:

Post a comment