FYI TRAVEL

Traveling Everydays

Breaking

Tuesday, 21 April 2020

Perubahan Tradisi Melaut Suku Bajo

Menurut Steven Sumolang dalam bukunya 'Tradisi Melaut dan Perubahannya', Suku Bajo punya hubungan dengan kerajaan Johor dan kerajaan Bone, menjadi cerita pengikat kesatuan etnik Bajo yang menyebar di kepulauan nusantara.
Anak Bajo/instagram @geo.rock888
"Tradisi Palilibu, Bapongka, Babangi, Lamma yang menangkap ikan sampai jauh dan berlama-lama akhirnya menetap, telah menyebabkan persebaran atau diaspora orang Bajo."tulisnya.

Tradisi penangkapan ikan orang Bajo termasuk di Nain (Pulau di Bunaken, Sulawesi Utara), telah mengalami perubahan, kalau dahulu mereka menangkap ikan sampai sejauh mungkin dan menetap di daerah yang dituju (Palilibu, Bapongka, Babangi, Lamma), kini nelayan Bajo Nain telah menetap di kampungnya.

"Menangkap ikan beberapa hari saja di daerah operasi penangkapan, setelah itu pulang ke kampung Nain." tulis Steven.

BACA JUGA : Taman Laut Taka Bonerate Atol Terbesar Ke-3 di Dunia

Bukan hanya di Indonesia, Suku Bajo telah tersebar di lautan Malaysia, Filipina, dan Thailand. Di Indonesia, mereka tersebar di Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan wilayah Indonesia bagian timur lainnya.

Sejarah mengatakan, suku ini berasal dari Kepulauan Sulu di Filipina Selatan yang hidup di lautan lepas, hingga membawa mereka masuk ke negara tercinta ini, Tanah Air Indonesia.

Namun, Tony Rudyansjah, antropolog dari Universitas Indonesia, mengungkapkan asal-usul suku Bajo masih jadi perdebatan. Menurutnya bisa saja orang Bajo memang berasal dari Barito dan bermigrasi untuk berdagang ke wilayah utara Indonesia (Kepulauan Sulu, Filipina) hingga tersebar ke seluruh Nusantara.

"Sebab masa keemasan perniagaan di Nusantara itu sebenarnya abad ke-8, bukan abad ke-15 seperti yang sering kita duga. Karena masa keemasan perdagangan itu, maka masuk akal bila orang Bajo pindah ke utara. Perdagangan yang maju memang ada di utara." katanya yang dikutip dari  National Geographic.

BACA JUGA : Kwatisore Selalu Hujan Setiap Sore

Berpindahnya Suku Bajo ke berbagai tempat menyebar ke Nusantara membuat bingung ahli Linguistik Phillipe Grange dari Prancis. "Tapi semua itu tetap masih hipotesis," kata Grange. "Saya juga agak bingung, bagaimana bisa satu suku awalnya tinggal di satu daerah bisa tiba-tiba pindah semua membawa anak istri hanya untuk berdagang?" tanyanya.

Penelitian mengenai budaya bahari semakin penting dalam rangka upaya bangsa Indonesia yang berkeinginan kuat mewujudkan visi pembangunan dunia maritim berdasarkan geografis bangsa ini yang lebih luas wilayah lautannya daripada daratannya.

Perhatian pada tradisi nelayan Bajo, cukup menarik untuk disimak dimana etnik ini dikenal sebagai satu-satunya suku pengembara laut yang masih ada sekarang, menyebar di seluruh wilayah nusantara dan tetap megandalkan dunia laut dalam aktivitas mata pencahariannya. Sehingga kajian terhadap nelayan Bajo bisa memperkaya pengetahuan akan kemaritiman orang Bajo yang nantinya kemampuan melaut mereka dapat diangkat dan dikembangkan dalam rangka memperkuat pertumbuhan ekonomi rakyat pesisir.

Sumber : Buku Steven Sumolang 'Tradisi Melaut dan Perubahannya', National Geographic Indonesia, Indosiana.go.id

No comments:

Post a comment