FYI TRAVEL

Traveling Everydays

Breaking

Thursday, 16 April 2020

Saat Terjadi Kemacetan di Everest

Sudah bertahun-tahun lamanya seorang pendaki gunung berlatih untuk persiapan melakukan ekspedisi ke Everest. Namun ketika sudah menggapai mimpinya itu (puncak Everest), nahas saat turun-- terjebak antrian panjang pendaki lain dan akhirnya tewas.

Ilustrasi pendaki Everest
Kisah ini di tulis oleh National Geographic Indonesia, Anjali Kulkarni, pendaki asal India-- berlatih selama enam tahun untuk mencapai puncak Gunung Everest yang tertinggi di dunia. Ia berhasil menggapai impiannya tersebut, tapi sayangnya tak selamat saat perjalanan turun ke lereng gunung.

Anak Anjali, Shantanu Kulkarni, mengatakan bahwa ibunya meninggal setelah terjebak ‘macet’ di gunung Everest yang dipenuhi turis.

“Dia harus menunggu sangat lama untuk sampai puncak dan turun kembali. Anjali tidak bisa bergerak dan akhirnya meninggal di atas sana,” papar Thupden Sherpa, yang menyelenggarakan tur ke gunung tersebut.

BACA JUGA : Orang Pertama Mencapai Puncak Hkakabo Razi : Aku Tidak Ingin Pernah Melakukannya Lagi

Dua pendaki lain, Kalpana Das (52) dan Nihal Bagwan (27), juga meninggal dunia minggu ini. Keshav Paudel, penyelenggara tur, mengatakan bahwa Bagwan “terjebak padatnya antrean di gunung lebih dari 12 jam dan kelelahan”.

Pada Sabtu lalu, pria berusia 44 tahun asal Inggris, Robin Haynes Fisher, meninggal sesaat setelah mencapai puncak. Menambah jumlah kematian di Gunung Everest menjadi sepuluh orang.

“Petugas kami berusaha menolongnya, tapi ia langsung meninggal,” ujar perusahaan tur Fisher.

Cuaca cerah selama beberapa hari telah menarik perhatian banyak pendaki yang berharap dapat mencapai puncak setinggi 8.848 tersebut.

Foto yang diunggah di Instagram oleh Nirmal Purja, salah satu pendaki memperlihatkan antrean panjang di Gunung Everest. Menurutnya, ada sekitar 320 orang yang menunggu kesempatan untuk naik ke puncak.

BACA JUGA : Mencairnya Gletser di Himalaya Sangat Membahayakan

‘Kemacetan’ di gunung ini menciptakan situasi berbahaya bagi para pendaki yang sudah kelelahan. Mereka juga membawa beban berat sambil melawan penyakit di ketinggian yang dapat menyebabkan pusing dan mual.

Gordon Janow, direktur program Alpine Ascents International yang telah mengatur pendakian di Everest selama 30 tahun mengatakan, kepadatan memang sering terjadi. Namun, setiap tahun kondisinya semakin memburuk.

“Ketika terjadi kemacetan, Anda mengubah kecepatan alami sehingga menghabiskan lebih banyak waktu di zona ketinggian. Ini memerlukan waktu yang lebih lama dibanding pendakian 10-15 tahun lalu,” paparnya.

Alpine Ascents sudah mengantar puluhan pendaki ke Everest. Menurut Janow, salah satu keterampilan paling penting bagi pemandu yang menemani mereka adalah mengetahui kapan waktu terbaik untuk mengantar mereka kembali pulang.

BACA JUGA : Alat Ekspedisi Gunung Terlalu Ringan, Lalu Dimana Letak Keasyikannya?

“Kami tidak pernah memaksa individu untuk menggunakan kemampuan maksimalnya saat mencapai puncak. Jika itu dilakukan, maka tidak akan ada uap atau energi yang tersisa untuk perjalanan turun,” ungkapnya.

Sumber : National Geographic Indonesia

No comments:

Post a comment