FYI TRAVEL

Traveling Everydays

Breaking

Sunday, 26 April 2020

Sambut Ramadhan, Muslim Lembah Baliem Bakar Batu

Pada tahun 1960-an transmigran muslim dari Jawa yang datang ke Lembah Baliem memperkenalkan Islam kepada warga setempat.
Bakar Batu (Kompas.com)
Selain itu, warga asli Lembah Baliem mengenal islam lewat interaksi dengan pendatang dari Bugis.

"Selain dari para guru dan transmigran dari Jawa di daerah Sinata, yang kini disebut Megapura, di Distrik Asso-Lokobal, warga asli Lembah Baliem mengenal Islam dari interaksi dengan pendatang dari Bugis," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayawijaya Alpius Wetipo mengutip CNN indonesia.

Lanjut kata dia, seorang tokoh seperti; Merasugun, Firdaus, dan Muhammad Ali Asso disebut sebagai generasi pertama pemeluk Islam di Lembah Baliem pada tahun 1970-an.

BACA JUGA : Tradisi Ramadhan di Nusantara

"Mereka berperan dalam menyebarluaskan ajaran Islam di wilayah tersebut." katanya

Kini sebagian Suku Dani yang tinggal di Lembah Baliem memeluk Agama Islam, termasuk di antaranya yang tinggal di Kampung Tulima dan Kampung Walesi.

Sambut Ramadan dengan Bakar Batu

Menurut Wetipo, muslim Lembah Baliem menyambut ramadhan dengan cara Bakar Batu. Tradisi ini turun temurun sebagai simbol kerukunan antaraumat beragama di Lembah Baliem.

"Tradisi Bakar Batu menyambut Ramadhan di Lembah Baliem merupakan contoh toleransi antar-umat beragama yang perlu dilestarikan." kata Wetipo.

Sebelum datangnya pandemi Corona, warga muslim biasanya menggelar Bakar Batu bersama warga Kristen dan Katolik di halaman Masjid Al Aqsha di Kampung Walesi. Sayangnya tahun ini tradisi tersebut terpaksa digelar di honai (rumah adat) masing-masing.

BACA JUGA : 14 Hari Karantina Mandiri Ala Traveler

"Tradisi Bakar Batu ini juga sekaligus sebagai bentuk ucapan syukur bulan Ramadhan telah tiba, sebagai bentuk silaturahmi dan saling meminta maaf dengan seluruh kerabat, baik itu kerabat Muslim maupun kerabat Kristen," kata Tahuluk Asso, pemuka agama Islam di Kampung Walesi, seperti yang dikutip dari Antara, Minggu (26/4).

Warga muslim yang tinggal di Lembah Baliem menyesuaikan tradisi dengan ajaran Islam dalam menggelar Bakar Batu.

Babi yang biasanya digunakan dalam tradisi diganti dengan ayam yang sudah disembelih sesuai dengan ajaran agama Islam.

Dalam acara itu, para lelaki bertugas menyusun batu di atas tumpukan kayu kering serta dedaunan dan rumput kering yang kemudian akan dibakar.

Tidak jauh dari tempat batu dibakar, sudah disiapkan lubang di tanah. Batu yang sudah dibakar selanjutnya ditata di lubang itu.

BACA JUGA : Perubahan Tradisi Melaut Suku Bajo

Bahan makanan seperti sayuran, keladi, ubi jalar, singkong, pisang, dan ayam lantas ditaruh di atasnya. Setelah itu, batu-batu panas akan diletakkan di atas tumpukan makanan.

Setelah sekitar tiga jam, ayam, ubi jalar, singkong, serta sayuran yang diletakkan di antara batu panas itu bisa diangkat dan disantap bersama.

"Suku Dani di Kampung Tulima dan Kampung Walesi akan tetap menjaga dan memelihara tradisi bakar batu warisan nenek moyang, walaupun begitu tetap menjaga akidah Islam," kata Abu Hanifah Asso, anak Kepala Suku Tahuluk Asso.

Festival Lembah Baliem

Selain tradisi Bakar Batu, ditempat ini juga terkenal dengan Festival Lembah Baliem. Festival tahunan yang digelar setiap bulan Agustus di sebuah tanah lapang di kaki perbukitan Distrik Walesi, Wamena, Jayawijaya, Papua.

Acara ini memiliki makna dan simbol kesatuan dan persatuan sebagai simulasi perang suku yang berakhir dengan perayaan tradisi dibalut dengan festival dalam kalender acara tahunan pariwisata.

Festival ini melibatkan perwakilan 40 distrik dari seluruh Wamena.

BACA JUGA : Hajat Besar urang Baduy

Tak hanya atraksi perang adat, kelompok peserta festival juga menampilkan tarian, nyanyian, dan musik tradisional.

Para perwakilan distrik itu berasal dari suku Dani, Lani, dan Yali. Mereka, baik laki-laki dan perempuan, bertelanjang dada.

Para pria mengenakan koteka atau penutup alat kelamin tradisional. Wajah mereka berhias pernak-pernik tradisional seperti taring babi (wamaik) dan kalung yang disebut mikak.

Adapun, kelompok perempuan dari tiga suku itu mengenakan rok tradisional serta berkalung noken.

Awalnya terdapat sejumlah skenario perang, di antaranya perselisihan yang bermula dari penculikan remaja perempuan dan pembunuhan. Perang antara dua suku lalu terjadi, kaum laki-laki saling bertarung dengan panah dan tombak.

BACA JUGA : Kwatisore Selalu Hujan Setiap Sore

Beberapa skenario perang berakhir dengan kisah kemenangan dan kekalahan. Namun ada pula yang berujung perdamaian karena para pihak menganggap perang tak dapat menyelesaikan persoalan.

Menurut turis asal kota Bristol, Inggris yang menyaksikan festival ini, mereka tertarik pada kostum nya yang unik.

"Kostum mereka sangat indah. Tarian dan atraksinya beragam, setiap suku menampilkan hal yang berbeda," kata Susan Boxall dikutip BBC Indonesia.

Pertama kali menyaksikan festival ini Susan sempat kelelahan karena perjalanan jauh dari Inggris sampai ke Lembah Baliem yang memang akses nya tidak mudah ditempuh. Namun terbayar dengan pemandangan asri Lembah Baliem dan tradisinya yang masih terjaga.

"Tradisi ini tidak bisa kami lihat di tempat lain di seluruh dunia," tuturnya.

Sumber : CNN Indonesia, Antaranews, BBC Indonesia

No comments:

Post a comment