FYI TRAVEL

Traveling Everydays

Breaking

Thursday, 2 April 2020

Sisi Kelam Di Balik Keindahan Ranu Manduro


Hamparan keelokan Pegunungan Anak Semeru (Penanggungan) dengan pemandangan hijaunya rurumputan. Kadang sesekali dihiasi bebatuan diantara rurumputan itu, menambah manis tempat ini. Ranu Manduro daerah Ngoro, Kabupaten Mojokerto pernah jadi cerita, tempat ini jadi tenar bak artis yang sedang mengorbit awal tahun 2020 lalu.

Namun dibalik keindahannya itu, Ranu Manduro memiliki sisi kelam di masyarakat. Cerita ini ditulis oleh akun instagram @elhakim_14.

"Ranu manduro adalah bekas galian C sirtu (pasir dan batu) yang saat ini terbengkalai dan tidak direklamasi." tulis akun @elhakim_14 membuka cerita.

Galian C ini mulai beroperasi sekitar tahun 2014 (ralat jika salah). Dari tahun ke tahun, galian ini semakin melebar dan meluas. Dampak dari galian ini sangat meresahkan warga. mulai dari debu, asap kendaraan, jalan berlubang, dan berkurangnya air bersih.

Elhakim menuturkan, tahun 2016 galian ini berkembang cukup pesat dan semakin besar. Lalu lalang truck pengangkut sirtu tak pernah berhenti setiap hari. Tak bertahan cukup lama.

Awal Tahun 2018 galian ini di tutup (alasannya karena yang punya lahan meninggal dunia). Disini awal mula Ranu Manduro muncul.

"Saat musim penghujan 2018 datang. Ada sebuah kubangan air yang cukup besar bekas galian, semacam danau buatan. Disinilah muncul sebutan danau Ranu Manduro dari masy sekitar. Indah memang, sebuah kubangan air & hamparan ladang hijau bebatuan serta dihiasi panorama gn penanggungan." terangnya.

Dia menuturkan setelah viral beberpa bulan, danau ini seakan hilang ditelan waktu. Bukan tanpa alasan, ketika sudah ramai, muncul konflik di masyarakat sekitar. Hingga akhirnya saat kemarau datang, sang pewaris pemilik galian memutuskan untuk menguras danau tersebut.

Hingga tiba di Februari 2020. Saat musim penghujan kembali datang, Ranu Manduro kembali muncul dengan keindahannya. Bukan danau, tapi saat ini semacam bukit hijau bebatuan yang indah. Lagi-lagi dihiasi panorama gunung penanggungan yang menambah keindahan pemandangan Ranu Manduro.

"Hingga viral dan menjadi trending saat ini. Ranu manduro belum ada yang mengelola secara resmi. Hanya papan hijau dan spidol berwarna hitam bertuliskan 3ribu untuk parkir masuk dari masy sekitar." pungkas @elhakim menutup cerita.

Pasir untuk Nguruk Lumpur Lapindo

Sementara itu, dari informasi yang didapat dari Yusrizal, salah satu pengunggah video milik Hafidz, Ranu Manduro belum menjadi tempat wisata resmi. Kawasan itu dulunya justru hanya sekadar perbukitan yang dikeruk untuk mengatasi lumpur lapindo di Sidoarjo.

"Dulu, kan, saya pernah mondok di dekatnya lumpur Lapindo itu, kan. Teman saya rumahnya dekat Ngoro itu, kan. Teman saya suka cerita. Di sekitar rumah itu sering ada truk-truk yang lewat buat ngambilin pasir. Pasirnya itu buat nguruk yang di Lapindo," kata pria yang akrab disapa Rizal itu pada kumparan, Selasa (25/2). 

"Makanya waktu lumpur-lumpur meluber itu, kan, ramai truk-truk itu lewat di jalanan. Sekarang, kan, jalanan di Ngoro itu rusak," tambahnya lagi. 

Hal yang sama diamini oleh Hafidz Bashory. Menurut pria yang berprofesi sebagai guru TPQ tersebut akses menuju Ranu Manduro lumayan sulit untuk dijangkau dengan mobil.

"Sebaiknya menggunakan sepeda motor atau sepeda," ucapnya. 

Ranu Manduro berlokasi di Desa Manduro, Manduro Manggung Gajah, Kec. Ngoro, Kab. Mojokerto, Jawa Timur. Biaya yang mesti kamu keluarkan juga sangat murah, cukup Rp 3 ribu saja untuk parkir kendaraan. 

Tarif itu juga sebenarnya baru-baru ini diterapkan. Karena menurut Hafidz, penerapan harga tiket berlaku sejak Senin (24/2) kemarin. Padahal sebenarnya, sebelum jadi viral pun, Ranu Manduro sudah sering didatangi wisatawan lokal. Hanya saja, memang tidak seramai sekarang. 

Oleh karena itu, dengan viralnya video ini, Rizal berharap agar pemerintah setempat jadi lebih memperhatikan potensi wisata di Mojokerto, terutama di Ranu Manduro. 

"Kalau enggak diramein, kayaknya enggak diurus sama pemkabnya, kayaknya gitu, sih. Orang tak tanyain parkirnya saja masih Rp 3 ribu di sana, itu pun kalau ada yang jaga, kalau enggak ada yang jaga, ya, enggak (bayar) parkir." jelas Rizal.

Sumber : Instagram @elhakim_14, Kumparan.com
Foto : Facebook @Anwar Al Faruq

No comments:

Post a comment