FYI TRAVEL

Traveling Everydays

Breaking

Wednesday, 1 April 2020

Sisi Positif dari Coronavirus


Coronavirus (Covid-19) membuat penghuni dunia panik, was-was, ketidakpastian dan sulit diprediksi. Sudah puluhan negara terpapar oleh virus ini. Negara yang terpapar ramai-ramai melakukan prokoler himbauan kepada masyarakat agar bekerja dan beraktivitas dirumah (Lockdown), sementara itu; stasiun, terminal, mall-mall, pusat keramain ditutup untuk mengantisipasi penyebaran virus ini.

Diwaktu yang bersamaan ternyata penyebaran Coronavirus ini menyebabkan sisi positif untuk lingkungan. Ilmuwan berpendapat, dimana waktunya sekarang bumi untuk beristirahat.

Di Italia, mewabahnya Coronavirus membawa efek nyata bagi keanekaragaman hayati negara tersebut. Jalur air Venesia yang terkenal misalnya, airnya menjadi cukup jelas untuk melihat kehidupan laut di dalamnya dikutip National Geographic.

Beberapa pecinta satwa liar di Italia melaporkan bahwa hewan telah kembali muncul di kanal dan garis pantai di tengah wabah COVID-19 yang sedang berlangsung.

Dari cuitan salah satu warga Italia, @diceNiNi, kita dapat melihat bahwa perairan Venesia yang keruh menjadi jernih. Ikan-ikan kecil terlihat berenang menikmati air yang tenang.

Di tempat lain, seekor lumba-lumba terlihat berenang di sepanjang dermaga di Cagliari, salah satu pelabuhan terbesar di Laut Mediterania dan ibu kota pulau Sardinia Italia.

Sebelumnya, lumba-lumba jarang berenang sedekat ini dengan pantai kota pelabuhan yang ramai karena biasanya penuh dengan kapal barang dan feri.

Sementari itu, menurut Badan Antariksa Eropa (ESA), serta beberapa peneliti independen, emisi nitrogen dioksida telah menurun signifikan di Italia setelah lockdown yang disebabkan penyebaran COVID-19. Satelit Copernicus Sentinel-5P mendeteksi, penurunan emisi tersebut menandakan berkurangnya polusi udara, dengan perubahan paling signifikan diamati di bagian utara negara itu.

“Penurunan emisi nitrogen dioksida di atas Lembah Po di Italia utara sangat nyata,” kata Claus Zehner, manajer misi ESA Copernicus Sentinel-5P. “Meskipun mungkin ada sedikit variasi data karena tutupan awan dan perubahan cuaca, kami sangat yakin pengurangan emisi yang dapat kita lihat, bertepatan dengan lockdown di Italia menyebabkan lebih sedikit lalu lintas dan kegiatan industri." tambahnya dikutip dari Mongabay-Indonesia.

Di Hubei, Tiongkok, sejak beberapa waktu lalu, pabrik-pabrik ditutup dan jalan-jalan sepi saat diberlakukan lockdown untuk menghentikan penyebaran COVID-19. Mungkin tak banyak yang menduga, ada dampak ‘lainnya’ yakni langit menjadi biru.

Menurut Kementerian Ekologi dan Lingkungan Tiongkok, jumlah rata-rata “hari dengan udara berkualitas baik” meningkat 21,5% pada Februari 2020, dibandingkan Februari 2019. Hubei adalah provinsi dimana Wuhan (yang diyakini sebagai awal mula tersebarnya virus corona) sebagai ibu kotanya.

Tentu tak hanya Hubei. Gambar satelit yang dirilis NASA menunjukkan penurunan dramatis emisi nitrogen dioksida -yang dikeluarkan kendaraan, pembangkit listrik dan fasilitas industri- di kota-kota besar Tiongkok antara Januari dan Februari 2020. Awan gas beracun yang terlihat menggantung di atas pusat-pusat industri hampir menghilang.

“Ini adalah pertama kalinya saya melihat penurunan dramatis di area seluas itu untuk acara tertentu,” kata Fei Liu, seorang peneliti kualitas udara di Goddard Space Flight Center NASA.

“Saya tidak terkejut karena banyak kota di seluruh negeri telah mengambil langkah-langkah (lockdown atau semi lockdown) untuk meminimalkan penyebaran virus,” ujarnya dilansir dari CNN.

Sumber : National Geographic, Mongabay-Indonesia
Foto dari instagram @notsoshabittravels

No comments:

Post a comment