FYI TRAVEL

Traveling Everydays

Breaking

Thursday, 23 April 2020

Tradisi Ramadhan di Nusantara

Meleburnya budaya dan ajaran Agama Islam membuat Indonesia memiliki tradisi unik dalam setiap perayaan keagamaan. Tradisi saat menyambut bulan Ramadhan adalah salah satu kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia. Setiap daerah memiliki tradisinya sendiri-sendiri. Hal tersebut, terkandung nilai-nilai filosofis para pendakwah dahulu dalam menyebarkan agama islam dengan cara sedikit berbeda.
Tradisi Megibung (Dakwahmuslimbali.com)
Penulis asing Andre Moller, menilai dalam buku nya 'Ramadhan di Jawa Pandangan dari Luar', para pendakwah dahulu dalam menyebarkan agama Islam memasukan unsur budaya yang dulu memang sudah mengakar di masyarakat.

"Para pendakwah Islam dahulu ketika menyampaikan ajaran tauhid ke Jawa, semacam asimilasi budaya, untuk memasukkan sedikit demi sedikit unsur Islam ke dalam kebudayaan masyarakat yang lebih dulu mengakar. Bisa jadi juga memang terkandung nilai filosofis tersendiri kenapa masyarakat Jawa menyebutnya demikian." tulis penulis yang berasal dari Swedia itu.

BACA JUGA : 14 Hari Karantina Mandiri Ala Traveler

Ia mencontohkan dalam penamaan bulan hijriah terdapat perbedaan penyebutan bagi masyarakat nusantara, "Seperti bulan Rajab, jadi Rejeb dalam dialeg tuturwicara Jawa, Syakban: Ruwah, Ramadan: Poso, Syawal: Sawal/Bhodo, dan seterusnya." tulis Moller.

Ramadan dalam kenyataan di Jawa dalam keadaan lain kata penulis yang pernah tinggal di Jogja dan Blora itu (Moller) seperti, Nyekar ke makam-makam sanak keluarga maupun leluhur, Ruwatan sering kali kita lihat pada masyarakat Jawa dan dibeberapa tempat masih berlangsung sebelum bulan Ramadan.

Sementara itu, dalam menyambut bulan Ramadan di sejumlah daerah, banyak beragam tradisi, kita mengenal tradisi bersih-bersih menjelang Ramadan sebagai simbol penyucian diri di daerah Solo, Klaten, Yogyakarta dan sekitarnya terdapat mandi padusan, di Riau dikenal dengan mandi Balimau Kasai, daearah Banyumas suci diri dikenal dengan istilah nyadran, lalu dandangan di daerah Kudus, dugduren di Semarang, Meugang di Aceh. Selama Ramadan masyarakat Bali mengenal tradisi Megibung, yaitu makan bersama dari satu nampan saat buka puasa. Sedangkan Damar Kurung, lampion berbentuk segitiga yang di atasnya ada variasi gambar bertema religius mewarnai Gresik sepanjang Ramadan.

Tradisi Padusan di Jawa

Kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta, yang dikenal dengan nama padusan. Berasal dari kata adus yang berarti mandi. Padusan merupakan tradisi masyarakat Jawa untuk menyucikan diri, membersihkan jiwa dan raga, dalam menyambut datangnya bulan suci. Tradisi yang merupakan warisan leluhur yang dilakukan secara turun temurun ini dijalani dengan cara berendam atau mandi di sumur-sumur atau sumber mata air. Tujuan dari padusan ini adalah agar saat Ramadan datang, kita dapat menjalani ibadah dalam kondisi suci lahir maupun batin.

 BACA JUGA : Mengarak Bendera Pusaka Kiai Tunggul Wulung

Selain itu, bila ditelisik lebih jauh, padusan memiliki makna yang sangat dalam yaitu sebagai media untuk merenung dan instropeksi diri dari berbagai kesalahan yang telah dibuat pada masa lalu. Oleh karena itu, semestinya ritual ini dilakukan seorang diri di tempat yang sepi. Dalam sepi diharapkan muncul kesadaran diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik daripada sebelumnya. Dalam kondisi hening, akan hadir keyakinan dan kesadaran untuk melangkah memasuki bulan Ramadan yang suci sebagai pribadi yang lebih baik lagi.

Akan tetapi, akhir-akhir ini telah terjadi pergeseran nilai terhadap ritual yang merupakan tradisi leluhur ini. Padusan yang semestinya dilakukan seorang diri, kini telah berubah menjadi mandi, keramas atau berendam beramai-ramai di satu mata air, sehari sebelum menjalani ibadah puasa Ramadan. Ritual yang semestinya bersifat sakral ini pun telah berubah menjadi komoditi pariwisata.

Tradisi Megibung di Bali 

Tradisi ini bermula ketika agama Islam masuk ke Bali. Ketika itu, umat Muslim dari berbagai suku seperti Melayu, Jawa, Madura, Bugis dan Lombok sudah bermukim di Pulau Dewata. Umat Muslim yang bermukim tersebut kemudian berpikir untuk menyatukan diri. Maka dibuatlah sebuah paguyuban.

Salah satu program kerja paguyuban yakni mengkhatamkan Al-Quran setiap bulan Ramadan. Dan ketika khatam Al-Quran maka dilakukanlah tasyakuran. Dari sana, jumlah anggota paguyuban terus berkembang. Kini, setiap kali tasyakuran digelar dengan cara makan bersama.

Megibung bukan sekedar makan bersama. Justru tradisi itu yang mempersatukan umat Muslim Bali agar tidak mudah terpecah. Terlebih saat paguyuban dibentuk, Indonesia masih dijajah Belanda. Setiap megibung digelar, panitia selalu mengikutsertakan anak muda dan anak-anak. Sementara, mengenai menu makanan, warga dengan sukarela memberikan sumbangan kepada masjid.

BACA JUGA : Bali Minim Positif Kasus Corona ?

Tak hanya di Kampung Islam Kepaon Denpasar, di singaraja tradisi tersebut juga digelar di Kelurahan Kampung Singaraja yang berlokasi tidak jauh dari Puri Singaraja. Tak jauh berbeda dengan di Kampung Islam Kepaon Denpasar, tradisi Megibung yang dilakukan bersama itu juga sebagai tali silaturahmi untuk merekatkan kebersamaan, sehingga pelaksanaan megibung menjadi hal yang ditunggu masyarakat di Kampung Singaraja.

Dalam puncak acara tradisi Megibung di Kelurahan Kampung Singaraja itu melibatkan seluruh masyarakat dan undangan yang dipusatkan di halaman Masjid Nurrahman, para warga Muslim saling berbagi sebagai wujud syukur di hari lebaran yang fitri tersebut.

 Dan masih banyak tradisi lainnya di sejumlah daerah di Indonesia.

Sumber : Buku 'Ramadhan di Jawa Pandangan dari Luar', Andre Moller, Indonesia.go.id , Dakwahmuslimbali.com

No comments:

Post a comment