FYI TRAVEL

Traveling Everydays

Breaking

Saturday, 9 May 2020

Belajar dari Sejarah, Hati-Hati Gelombang Kedua Virus Mematikan

Seorang ahli ilmu lingkungan dari Universitas Montana Amerika Serikat, mengenang foto lawas di sekolah NORMAL (UMW), Rob Thomas pemilik akun instagram @rockdoctor62 menulis Flu Spanyol mewabah antara periode tahun 1918-1919. Virus itu terbagi jadi 2 gelombang.
#Stayhome (Pixabay)
"Pada hari ini saya mengenang foto sekolah pertama (UMW) ini diambil pada musim panas 1919. Pada tahun 1918, gelombang pertama pandemi flu menyerang pada musim semi dan umumnya ringan." tulisnya.

Pada gelombang pertama flu ini menyerang seperti flu biasa saja, namun pada gelombang kedua flu itu berevolusi.

"Gelombang kedua terjadi pada musim gugur tahun yang sama, tetapi virusnya telah berevolusi. Korban meninggal dalam beberapa jam atau beberapa hari karena gejala yang berkembang, kulit mereka membiru dan paru-paru mereka penuh dengan cairan, menyebabkan mereka mati lemas." tulis Rob.

"Baru tahun 1919 badai virus itu mulai mereda. Secara bertahap mereka mulai kehidupan yang baru," lanjut dia.

BACA JUGA : Gubernur NTB : Kevin Kamu Tidak Sendirian

Flu Spanyol di indonesia

Orang yang terinfeksi virus ini memiliki beberapa fase. Menurut BGD (Dinas Kesehatan Hindia Belanda) yang menangani Flu Spanyol di Hindia Belanda (Sekarang Indonesia), memiliki gejala layaknya flu biasa. Penderita merasakan pilek berat, batuk kering, bersin-bersin, dan sakit kepala akut di awal. Dalam beberapa hari, otot terasa sakit dan disusul demam tinggi. Gejala umum lainnya, mimisan, muntah-muntah, menggigil, diare, dan herpes. Pada hari keempat atau kelima, virus telah menyebar hingga ke paru-paru. Dalam banyak kasus, gejala itu berkembang menjadi pneumonia. Bila penderita sudah sampai pada tahapan ini, kecil kemungkinan bisa bertahan.

Penyebaran Flu Spanyol di Hindia terjadi dalam dua gelombang. Pertama, Juli 1918-September 1918, sekalipun di beberapa tempat, seperti Pangkatan (Sumatera Utara), virus ini sudah menyebar pada Juni 1918. Diduga kuat penyakit itu ditularkan penumpang dari Singapura. Sementara, kawasan timur, seperti Sulawesi dan Maluku, masih terbebas dari Flu Spanyol selama gelombang pertama.

Dalam hitungan minggu, virus menyebar secara masif ke Jawa Barat (Bandung), Jawa Tengah (Purworejo dan Kudus), dan Jawa Timur (Kertosono, Surabaya, dan Jatiroto). Dari Jawa, virus menjangkiti Kalimantan (Banjarmasin dan Pulau Laut), sebelum mencapai Bali, Sulawesi, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Memasuki Oktober 1918, virus telah mencapai pulau-pulau kecil di sekitar Kepulauan Sunda. Sebulan berselang, virus telah mencapai Papua dan Maluku, 10 dari 1000 orang meninggal akibat flu ini. Menurut Oetoesan Hindia, lebih dari 10 persen populasi di Pulau Seram meninggal akibat keganasan virus ini. Sementara, 60 persen penduduk Makassar yang berjumlah sekitar 26.000 jiwa dilaporkan terjangkit virus ini dan 6 persen dari mereka tewas.

BACA JUGA : Jurus Pageblug Corona Ala Dukun Sragen

Virus Corona Melemah ?

Seabad kemudian meredanya Flu Spanyol muncul virus baru Coronavirus (Covid-19) di tahun 2020, virus ini diduga kasus pertama kalinya terjadi di Tiongkok dan mewabah ke seluruh dunia hingga saat ini. Ilmuwan terus meneliti tentang mutasi gen virus ini ada kemungkinan mereda atau lebih buruk ?

Ilmuwan di Arizona, Amerika Serikat, menemukan bahwa mutasi baru virus Corona COVID-19 kian melemah. Para peneliti di Arizona State University menyatakan mutasi virus yang mereka temukan itu bisa menjadi salah satu harapan agar wabah cepat terselesaikan.

Mutasi yang ditemukan itu hampir sama dengan mutasi yang ditemukan pada virus SARS 2003, yang memiliki kemungkinan lebih kecil untuk melewati sistem kekebalan tubuh seseorang. Hal ini pun disampaikan juga oleh Former Director of the World Health Organization (WHO) Cancer Programme, Karol Sikora.

"Para ilmuwan di Arizona telah mendeteksi mutasi dalam sampel virus corona baru. Jangan khawatir, virus itu telah kehilangan sebagian potensinya," tulisnya di akun Twitter pribadinya, mengutip dari Express.

"Saat ini terjadi selama wabah SARS, ini jadi tanda awal dari akhir wabah tersebut. Perlu diingat, ini hanya dari satu sampel. Kita perlu melihat apakah bisa menemukannya juga di tempat lain," imbuhnya.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti mengambil 382 sampel dari pasien Corona di negara bagiannya. Hasilnya, mereka menemukan adanya satu sampel yang sebagian besar telah kehilangan materi genetik virusnya.

BACA JUGA : Pariwisata, Industri Tahan Banting di Dunia ?

Mereka mengklaim karena ada bagian yang hilang itu, membuat virus menjadi lebih lemah. Ini bisa diharapkan sebagai sinyal awal bahwa wabah ini akan segera berakhir. Para peneliti memperkirakan mungkin kasus seperti ini akan lebih banyak muncul nantinya.

Mereka juga melaporkan bahwa virus Corona ini mengandung 30.000 huruf asam ribonukleat (RNA). Dan dalam sampel yang ditemukan, 81 huruf di antaranya sudah hilang.

"Protein-protein ini terkandung di sana tidak hanya untuk ditiru, tapi itu bisa membantu meningkatkan virulensi dan menekan sistem kekebalan tubuh. Dan itu akan berkembang dengan bentuk virus yang lebih lemah pada fase di akhir pandemi," kata Efrem Lim, kepala penelitian tersebut.
"Para ilmuwan di Arizona telah mendeteksi mutasi dalam sampel virus corona baru. Jangan khawatir, virus itu telah kehilangan sebagian potensinya," tulisnya di akun Twitter pribadinya, mengutip dari Express.

 BACA JUGA : Bali Minim Kasus Positif Corona ?

Menguat

Para ilmuwan di Amerika Serikat, telah menemukan mutasi virus CoronaCOVID-19 yang dianggap memiliki strain yang jauh lebih mematikan dari sebelumnya. Mutasi virus Corona ini telah menyerang Eropa dan Amerika Serikat, bahkan bisa menginfeksi kembali pasien yang telah sembuh.

Mengutip dari Sky News, peneliti di Los Alamos National Laboratory menjelaskan telah mendeteksi 14 mutasi protein pada virus ini, salah satunya dikenal dengan nama Spike D614G. Dalam risetnya menunjukkan bahwa mutasi yang pertama kali teridentifikasi di Eropa ini berbeda dengan yang menyebar di awal pandemi.

"Mengkhawatirkan, karena kita melihat adanya bentuk virus yang bermutasi muncul dengan sangat cepat. Dan selama bulan Maret menjadi bentuk pandemi yang dominan," ujar Dr Bette Korber, penulis utama studi tersebut.

"Saat mutasi itu masuk ke suatu populasi, mereka dengan cepat mengambil alih epidemi lokal. Sehingga mutasi ini lebih mudah menular," lanjutnya.

Lonjakan protein pada mutasi tersebut membuat para ilmuwan khawatir. Hal itu karena protein merupakan bagian yang paling efektif untuk membuat virus Corona mudah menyebar. Selain itu, protein merupakan molekul yang ada di bagian luar virus, yang berguna untuk menempel dan menembus dinding luar sel manusia dan hewan.

BACA JUGA : Bimbo Buat Lagu Tentang Wabah 'Corona', Tapi Bocor Di Sosmed ?

Protein ini juga yang menjadi sasaran para ilmuwan dalam upaya mencari obat maupun vaksin untuk COVID-19. Caranya dengan menemukan antibodi pengikat protein tersebut, supaya mencegah virus ini menginfeksi sel manusia.

"Mengingat protein ini juga sangat penting, baik dalam hal infektivitas virus dan target antibodi, kami akan terus mendesak agar bisa meneliti mutasi ini lebih jauh lagi," ujar Dr Korber.

Corona Membuat Ilmuwan Bingung ?

Profesor Amin Soebandrio, direktur Institut Biologi Molekuler Eijkman, mengatakan bahwa dengan menjabarkan sekuens genom virus dan mengunggahnya ke pusat data seperti Global Initiative for Sharing All Influenza Data (GISAID), para peneliti bisa membandingkannya dengan sekuens dari luar negeri dan mengungkap asal-usul virus tersebut.

"Kita bisa melihat secara internasional itu, virus yang ada di Indonesia berasal dari mana," kata Prof. Amin kepada BBC News Indonesia.

Misalnya, berdasarkan hubungan kekerabatan diketahui bahwa virus pada sampel yang dilabeli EIJK2444 sempat singgah di Australia dan Singapura sebelum sampai ke Indonesia. Adapun sekuens EIJK0141 awalnya bertolak dari China ke Amerika Serikat kemudian ke Indonesia.

Selain melacak pergerakan virus di luar negeri, data sekuens juga bisa digunakan untuk menganalisis pergerakannya di dalam negeri, kata Prof. Amin yang juga termasuk dalam tim pakar Gugus Tugas COVID-19. Misalnya, melihat apakah virus yang ditemukan di Manado sama dengan virus di Jakarta.

BACA JUGA : Flu Spanyol, Ibunya Virus ?

Penelusuran kontak atau contact tracing selama ini dilakukan berdasarkan riwayat kontak pergerakan orang. Hasil penelusuran itu bisa dikonfirmasi dengan data molekuler.

"Namanya epidemiologi molekuler, di mana kita akan mengetahui apakah satu orang dengan orang lainnya yang diduga kontak itu virusnya sama."

"Kalau dicurigai, misalnya, si B itu positif setelah kontak dengan si A, itu kan baru berasal dari riwayat kontak manusianya. Tapi kita bisa mengkonfirmasi itu dengan melihat virusnya. Jadi kalau virusnya sama ya itu hipotesisnya benar," ia menjelaskan.

Lebih lanjut Prof. Amin menjelaskan, perbedaan antara virus COVID-19 di Indonesia dan di negara-negara lain disebabkan adanya mutasi, yaitu perubahan pada materi genetik virus. Karena materi genetik merupakan kode untuk asam amino yang menyusun protein, mutasi berarti perubahan pada protein si virus.

Mutasi terjadi setiap kali virus memperbanyak diri, dan terjadi secara acak. Lalu terjadi seleksi alam yang di dalamnya bentuk yang paling sesuai dengan lingkungannya akan bertahan.

"Mutasi itu bisa menjadi bagus, bisa menjadi jelek [bagi virus]," ujarnya.

Para peneliti di Amerika Serikat dan Inggris telah mengidentifikasi ratusan mutasi virus penyebab COVID-19.

BACA JUGA : Foto : Flu Spanyol 1918

Namun belum ada yang bisa memastikan apa artinya hal ini bagi penyebaran virus di masyarakat saat ini dan seberapa efektif vaksin untuk mengatasinya.

Virus memang bermutasi, dan itulah sifat dasar mereka.

Pertanyaannya adalah: mana di antara mutasi ini yang sesungguhnya berpengaruh terhadap kecepatan penyebaran dan memburuknya penyakit ?

Sumber : Beberapa tulisan di instagram, Detik.com, BBC News Indonesia, Historia.id

No comments:

Post a comment