FYI TRAVEL

Traveling Everydays

Breaking

Saturday, 2 May 2020

Bintang Thuraya dan Tari Langit Bedhaya Ketawang

Beberapa waktu belakangan ini, viral video kemunculan penomena bintang Thuraya di pagi hari. Kemunculan bintang dengan istilah Jawa nya disebut lintang kartika atau bintang tujuh bersaudari dikaitkan juga dengan akan berakhirnya pandemi wabah pageblug Corona ditulis oleh sejumlah netizen di twitter dan instagram.
Tari Bedhaya Ketawang (Pos Hari Ini).
Subhanallah... Bintang TURAYA di pagi hari... benar yang di katakan Rosululah... akan habis Wabah Covid-19. apa bila ada Bintang di pagi hari. Itulah Bintang Turaya... Alhamdulillah. habis sudah sak wasanga manusia dengan adanya BUKTI. Bintang itu disaksikan byk orang.

BACA JUGA : Mengarak Bendera Pusaka Kiai Tunggul Wulung

Namun menurut ahli astronomi, video yang viral itu bukan bintang Thuraya melainkan planet Mars. "Bukan (bintang Turaya). Kemungkinan besar itu Mars, kalau benar difoto pada saat pagi hari sebelum matahari terbit," kata astronom amatir Marufin Sudibyo, mengutip Kompas.com, Kamis (29/4/2020).

Marupin membeberkan, secara ilmu astronomi bintang Thuraya disebut juga Pleiades. "Secara astronomis ia (bintang Tsuraya) dikenal sebagai Pleiades atau Messier 45 (M45)," jelas dia.

Pada saat ini, Pleiades masih berada di langit barat, tepatnya di bawah Venus. Oleh karena itu, secara teknis Pleiades akan bisa dilihat setelah terbenamnya matahari, meski kedudukannya yang sangat rendah akan membuatnya sulit untuk diamati secara langsung. "Pleiades akan berada di langit timur mulai pertengahan Juni mendatang, tatkala terbit lebih dulu ketimbang matahari," ujar dia.

Bintang Tsuraya banyak dikaitkan dengan legenda-legenda manusia. Di Jawa, misalnya, bintang ini dikaitkan dengan legenda Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari yang turun dari langit. Marufin juga berkata bahwa bintang Tsuraya membentuk salah satu entitas budaya Jawa melalui tari Bedhaya Ketawang yang melambangkan tujuh bintang, serta berguna pula bagi dunia pertanian sebagai penanda masa Kapitu

BACA JUGA : Benarkah, Serat Katiladha Relevan dengan Kondisi Sekarang?

Tari Bedhaya Ketawang

Mengutip facebook Asmarakelana PratamaTarian Bedhaya Ketawang adalah sebuah tarian 'mistik' hubungan batin antara raja-raja dinasti Mataram dan penerusnya dengan penguasa laut selatan atau yang lebih dikenal dengan Ibu Ratu Kidul.

"Tarian Bedhaya Ketawang ini diyakini menggambarkan tentang cinta kasih penguasa laut kidul kepada Panembahan Senopati. Tapi ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa tarian Bedhaya Ketawang adalah tarian yang mengisahkan siklus kehidupan manusia dari lahir, hidup, mati hingga alam keabadian," tulis Asmarakelana Pratama.

Menurut RT Warsadiningrat, tari ini semula bernama Lenggotbawa yang diciptakan Bathara Guru pada tahun 167. Tari ini ditarikan oleh tujuh bidadari yang diciptakan dari tujuh permata indah. Selanjutnya, Ratu Laut Selatan menambahkan dua penari lagi sehingga total menjadi sembilan orang. Tarian ini dipersembahkan sebagai perlambang curahan cinta Sang Ratu pada Sultan Agung, Raja Mataram yang menurunkan raja-raja di Keraton Yogyakarta dan Surakarta kini. Syair lagu sinden yang mengiringi tarian secara jelas juga menggambarkan sang raja sebagai bintang.

Dikatakan tari Bedhaya Ketawang karena disesuaikan dengan gending yang mengiringi tarian ini. Salah satunya adalah gending Bedhaya Ageng karya dari Panembahan Senopati. Selesainya pementasan tari Bedhaya Ketawang menandakan selesainya upacara prosesi Tingalan Dalem Jumenengan, yang merupakan upacara adat Keraton dari dinasti Mataram hingga Kasunanan Surakarta Hadiningrat saat ini.

BACA JUGA : Mengenal Sosok Ronggowarsito yang Disebutkan Sri Sultan HB X dalam Pidatonya

Kursi kosong dan Pergeseran Nilai Filosofis

Naskah tertua yang menyebut-nyebut tentang tokoh mistik ini adalah Babad Tanah Jawi. Panembahan Senopati adalah orang pertama yang disebut sebagai Raja yang menyunting Sang Ratu Kidul. Dari kepercayaan ini diciptakan Tari Bedaya Ketawang dari kraton Kasunanan Surakarta (pada masa Sunan Pakubuwana I), yang digelar setiap tahun, yang dipercaya sebagai persembahan kepada Kanjeng Ratu Kidul. Sultan duduk di samping kursi kosong yang disediakan bagi Sang Ratu Kidul. Pengamat sejarah kebanyakan beranggapan, keyakinan akan Kanjeng Ratu Kidul memang dibuat untuk melegitimasi kekuasaan dinasti Mataram.

Menurut kitab Wedbapradangga yang dianggap pencipta tarian Bedhoyo Ketawang adalah Sultan Agung (1613-1645) raja ke-1 dan terbesar dari kerajaan Mataram bersama Kanjeng Ratu Kencanasari, penguasa laut selatan yang juga disebut Kanjeng Ratu Kidul. Sebelum tari ini diciptakan, terlebih dahulu Sultan Agung memerintahkan para pakar gamelan untuk menciptakan sebuah gendhing yang bernama Ketawang. Konon penciptaan gendhing pun menjadi sempurna setelah Sunan Kalijaga ikut menyusunnya. Tarian Bedhoyo Ketawang tidak hanya dipertunjukan pada saat penobatan raja yang baru tetapi juga pertunjukan setiap tahun sekali bertepatan dengan hari penobatan raja atau "Tingalan Dalem Jumenengan".
 
Bedhoyo Ketawang tetap dipertunjukkan pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwana ke-XII (sekarang), hanya saja sudah terjadi pergeseran nilai filosofinya. Pertunjukan Bedhoyo Ketawang sekarang telah mengalami tranformasi pada berbagai aspek, baik aspek mistik maupun aspek politiknya. Bentuk tatanan pertunjukan nya masih mengacu pada tradisi ritual masa lampau. Namun nilainya telah bergeser menjadi sebuah warisan budaya yang dianggap patut untuk dilestarikan. Busana Tari BedhoyoKetawang menggunakan Dodot Ageng dengan motif Bangun tulak alas-alasan yang menjadikan penarinya terasa anggun.

Sumber : Kompas.com, Facebook Asmarakelana Pratama, Pos Hari Ini 

No comments:

Post a comment