FYI TRAVEL

Traveling Everydays

Breaking

Tuesday, 5 May 2020

Dari Seni, Tuai Simpati

Hari Sabtu nampak begitu bebas, tidak ada aktivitas di Kantor Imigrasi Kelas 1 Kota Mataram Lombok (NTB), pasutri (pasangan suami-istri) WNA (Warga Negara Asing) asal Rusia Mikhail Bondarek (29) dan Ekaterina (28) serta balitanya yang lucu sedang santai sembari menunggu jadwal pemulangan ke negaranya.
Pasangan WNA Rusia Mikhail Bondarek (29) dan Ekaterina (29) menunjukkan repro lukisan Ekaterina di Rusia yang mengunakan Kanvas dan acrilic. Termaauk puluhan lukisannya kecilnya di kertas. Ekaterina adalah perupa dari Rusia. (Kompas.com/Fitri).
Kemudian seniman musik tradisional Lombok, Nurkholis Sumardi menghampiri membawa alat musik tradisional Gambus Lombok. Setelah berkenalan tak lama mereka saling menguji alat musik masing-masing, menyamakan nada dan memainkan lagu Sasak Lombok. Salah satunya lagu Pemban Selaparang dan Lagu Tegining Teganang, lalu Milkhail menyanyikan lagu cinta dari Rusia dengan memainkan akordeonnya yang bersuara unik.

Ahli Etnomusikologi dari Universitas Nahdalatul Ulama Lombok merasa simpati dan penasaran dengan pasangan bule asal Rusia ini, aksinya yang viral ngamen di jalanan dengan membawa bayi lucunya.

BACA JUGA : Gubernur NTB : Kevin Kamu Tidak Sendirian

Selain Nurkholis, ada juga orang yang datang untuk sekedar berbincang dan berfoto.

"Saya baca kisah WNA Rusia di Kompas.com. Begitu saya tahu dia masih di Lombok dan ada di kantor Imigrasi, saya langsung ke sini dan bertemu mereka," ujar Anca, warga Kota Mataram di kantor Imigrasi Mataram pada (2/5).

Anca penasaran ingin melihat putri pasangan ini. Sebagai rasa simpati, Anca memberikan beragam jenis buah-buahan untuk keluarga ini.

Kisah keluarga Rusia ini memang membuat banyak orang bersimpati juga penasaran. Apalagi melihat penampilan mereka yang sederhana, pakaian seadanya, berpergian tanpa alas kaki, dan memilih menjadi vegetarian murni, makan sayur mentah, dan buah-buahan.

Keluarga Seniman

Istri dari Mikhail ternyata adalah seorang seniman perupa, dia membawa ratusan repro lukisannya di Rusia yang mengunakan kanvas dan acrilic. Termasuk puluhan lukisannya kecilnya di kertas.

"Saya merasa di rumah, ini menyenangkan sekali," kata Ekaterina.

"Kami sangat suka keterbukaan orang Asia, karena di Rusia tertutup. Disini komunitas dan orang-orang sangat baik, mereka tinggal bersama keluarga, anak-anak bermain bersama dan saling mencintai. Di tengah matahari dan makanan yang sehat,"

"Orang Asia sangat mudah tersenyum, kami ingin sekali kembali lagi melakukan perjalanan ke Asia jika nanti kami meninggalkan tempat ini," katanya penuh senyum.

BACA JUGA : Video : Mengantisipasi Laju Penyebaran Virus Corona, Gubernur NTB Perketat Bandara dan Pelabuhan Lombok

Kedua pasangan ini tampak tak canggung berduet dengan Nurkholis.

Mereka nampak bahagia sejenak dalam musik etnik Lombok dan Rusia.

"Jika kami kembali ke Rusia, tidak tahu mau melakukan apa, karena di Rusia masih krisis dan kami tidak punya pekerjaan. Saya akan mencari pekerjaan untuk makan keluarga saya. Satu bulan saya akan tinggal di rumah keluarga istri saya, tapi akan melakukan apa, saya tidak tahu karena di Rusia sekarang kita mau keluar dari rumah harus ada izin karena corona ini, " ujar Mikhail.

Nurkholis menyampaikan, apa yang dilakukan pihak Imigrasi Mataram tehadap keluarga Rusia ini patut diapresiasi.

Petugas tidak memberikan sanksi pada seniman jalanan ini di tengah pandemi Covid-19. Namun, dia tetap ingin mengingatkan, seniman-seniman jalanan seperti Mikhail dan istrinya sebaiknya mengikuti aturan negara yang dituju.

Jika ingin berkesenian, tetap melalui jalur legal agar tidak mendapat masalah.

"Tetapi memang kendala seniman seperti mereka ini selalu sama, bukan hanya di Indonesia," ujar Nurkholis.

BACA JUGA : Story : Naik-Naik ke Puncak Rinjani

Ketika mereka jujur mengatakan bahwa mereka seniman dan akan berkesenian di jalanan, pihak Imigrasi akan sulit memuluskan izin untuk mereka.

"Namun, jika mereka memiliki kapasitas untuk masuk ke wilayah manapun di Indonesia, saya pribadi bicara sebagai musisi dan seniman, mungkin bisa diperlonggar," kata Nurkholis.

Nurkholis mengaku sangat senang bertemu dengan keluarga Rusia ini, karena sangat jarang musisi jalanan bisa sampai di Lombok atau masuk ke Indonesia.

"Musisi jalanan ini melakukan aktivitasnya tidak semata-mata karena uang, tetapi lebih pada bagaimana mereka diapresiasi di jalanan di negara manapun," ucap Nurkholis.

Di Deportasi

Kepala Imigrasi Mataram Syahrifullah mengatakan, menurut rencana, keluarga WNA Rusia ini akan menyeberang ke Bali melalui Pelabuhan Lembar Lombok Barat, Minggu pagi.

Pada malam harinya, pasangan ini beserta bayinya akan langsung terbang ke Rusia melalui Bandara Internasional Ngurah Rai Bali. WNA Rusia bersama Anak dan Istrinya terpaksa harus dipulangkan ke Kantor Konsulat Rusia di Bali, karena kedapatan mengamen dan mencari nafkah di Lombok. Mereka tak bisa pulang ke negaranya karena Covid-19.

BACA JUGA : Tradisi Ramadhan di Nusantara

Sumber : Kompas.com

No comments:

Post a comment