FYI TRAVEL

Traveling Everydays

Breaking

Monday, 11 May 2020

Tanpa PSBB, Bali Mengklaim Bisa Kendalikan Corona

Alkisah, dalam suatu pertunjukan wayang Krisna bertemu Balatentara Bhatari Durga yang hendak menebar wabah penyakit kepada suatu negeri.  "Hey, kalian hendak mau kemana," tanya Krisna kepada Balatentara Durga.
Suasana di Kuta (Bali Daily)
Kemudian Balatentara itu bercerita diperintahkan Bhatari Durga untuk menebar wabah penyakit kepada suatu negeri. "Kami akan menebar suatu penyakit," jawab Balatentara itu.

Spontan Krisna bertanya. "Berapa banyak penduduk desa yang akan dikenai wabah penyakit," tanya Krisna lagi. "Seribu orang," jawab Balatentara.

Diakhir cerita, setelah menyelesaikan tugas Balatentara bertemu lagi dengan Krisna. Krisna heran kenapa bisa lebih penduduk yang terkena wabah penyakit itu.

Sang Balatentara itu menjawab. "Mereka lari karena ketakutan dan tidak patuh kepada raja," jawab Balatentara itu.

Dari cerita tersebut tersimpan filosofi yang banyak hikmah untuk diambil pelajaran. Menurut Budayawan Bali, I Gede Wiratmaja Karang menjelaskan bagi orang Bali, ada empat guru utama (catur guru) yang harus dipatuhi, yaitu pendeta sebagai guru pengajian, pemerintah sebagai guru wisesa, apa yang termuat dalam kitab sebagai guru swadhyaya, dan orangtua sebagai guru rupaka.

BACA JUGA : Bali Minim Kasus Positif Corona ?

“Itu (catur guru, red.) patuhi saja. Kita tetap waspada, tidak usah dibesar-besarkan, hadapi dengan tenang, ikuti aturan yang sudah ditetapkan pemerintah, pasti berhasil,” katanya dalam diskusi “Eksistensi Wabah: Fakta Masa Lampau Hadir pada Masa Kini”, yang diadakan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) melalui aplikasi Zoom di Jakarta, Selasa (21/4/2020) dikutip dari Historia.id

Menurutnya, mungkin tersimpan jawaban mengapa kasus Covid-19 di Bali relatif lebih lambat dibandingkan wilayah lain.

Hal tersebut diiyakan Gubernur Bali I Wayan Koster. Ia mengatakan meski tidak menerapkan PSBB, namun penanganan Covid-19 di Bali menunjukkan hasil yang lebih terkendali.

Padahal, sebelumnya berbagai pihak sangat mengkhawatirkan Bali akan terancam Covid-19. Sebab Bali sebagai destinasi wisata dunia terbesar di Indonesia.


Sementara itu, Mcbeth dari Asia Times menulis keheranannya melihat di Bali tak ada cerita luapan pasien di rumah sakit. Peningkatan jumlah yang tajam di krematorium atau bukti lainnya yang bisa menunjukkan merajalelanya virus ini di pulau itu juga tak tampak.
BACA JUGA : Mencicipi Minuman Tradisional Bali

"Padahal dari 4,2 juta populasi di Pulau Dewata, ribuannya adalah warga negara asing. Lambatnya kasus Covid-19 di Bali pun disebut sebagai fenomena 'kekebalan yang misterius'," tulis Asiatimes.com

Bagaimana cara orang Bali mempertahankan diri dari wabah penyakit menjadi menarik. Mengingat pulau itu adalah tujuan wisata dari seluruh dunia. Ditambah lagi, berdasarkan keterangan Mcbeth, jumlah kedatangan wisatawan Tiongkok ke Bali meningkat sebesar 3 persen pada Januari 2020. Itu adalah bulan yang sama ketika Wuhan menetapkan kebijakan lockdown. 

"Tetapi sejauh ini, fakta menunjukkan hal yang kontras berbeda," lanjut Koster dalam keterangan tertulis, Senin (4/5/2020) malam.

3 Indikator pengendalian wabah Covid-19

Ada 3 indikator yang dijadikan Koster untuk menilai Bali mampu mengendalikan wabah ini.

Pertama yakni rata-rata penambahan pasien positif Covid-19 per hari di Bali sebanyak 7 orang. Jumlah ini lebih rendah daripada DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Banten.

Dari data juga menunjukkan pasien positif Covid-19 di Bali sebagian besar dari luar negeri yakni 54 persen. Sedangkan kasus di provinsi lain, pasien positif sebagian besar merupakan transmisi lokal.


BACA JUGA : Tradisi Ramadhan di Nusantara

Kedua, persentase kesembuhan pasien positif Bali mencapai sekitar 58.67 persen yang paling tinggi di Indonesia. Bahkan jauh diatas rata-rata nasional (16.86 persen) dan Global/Dunia (32.10 persen).

Ketiga, persentase pasien positif Covid-19 yang meninggal di Bali hanya 1,48 persen atau jauh di bawah rata-rata Nasional (7.46 persen) dan Global/Dunia (7.04 persen).

Statistik di atas merupakan data yang diambil per 4 Mei 2020. Saat itu jumlah kumulatif pasien positif Covid-19 di Bali 274. Dari jumlah itu yang sembuh sebanyak 159, meninggal 4, dan dirawat 108.

Sementara untuk data per 8 Mei 2020, jumlah kumulatif pasien positif Covid-19 300 orang. Kemudian yang sembuh 195 orang, meminggal 4, dan dirawat 101. 


Ibarat Perang 

Ketua Tim Lab Pemeriksaan Kasus Covid-19 Bali Ni Nyoman Sri Budayanti mengatakan salah satu kunci Bali mengendalikan penyebaran virus ini yakni pemeriksaan atau tes sampel secara cepat.

Budayanti mengatakan melawan virus yang tak kasat mata ini ibarat perang. Maka langkah pertama untuk memenangkan perang ini adalah mengetahui dulu lokasi musuhnya.


BACA JUGA : Dari Seni, Tuai Simpati

Jadi fungsi lab pemeriksaan yakni untuk menentukan virus ini ada di mana agar bisa segera diobati dan dilakukan penelusuran kontak.

"Perang kalau tak tahu musuhnya kapan kita menangnya? Jadi konsep lab untuk menentukan virus itu ada di situ agar cepat diobati dan cepat tracing," kata Budayanti saat dihubungi, Sabtu (9/5/2020) sore kepada Kompas.com

Budayanti melanjutkan, untuk mengatasai Covid-19 maka perlu menerapkan 3T yakni test, treat, dan tracing. Dengan tes lebih cepat maka bisa diketahui mana yang positif dan tidak. Sehingga bisa lebih cepat memisahkan mana yang sakit dan tidak.

Kemudian lebih cepat juga dilakukan pelacakan kontak pasien yang sakit tersebut sehingga bisa mencegah penyebaran. Lalu dengan tes yang cepat, pasien juga lebih cepat mendapat pengobatan. Sehingga kondisi pasien tidak sampai ke tingkat lebih berat.

"Yang positif bisa cepat ditangani sehingga tidak berat (sakit) baru datang dan diobati. Kemudian angka kematian bisa ditekan," imbuhnya.

Budayanti mengatakan saat ini timnya terus bekerja keras agar hasil tes bisa keluar dalam waktu 24 jam. Ia mengatakan, untuk petugas laboratoriumnya tak hanya berasal dari RSUP Sanglah. Namun dari berbagai rumah sakit dan universitas yang ada dan diberdayakan untuk mengetes sampel.


BACA JUGA : Tempat Wisata Kok sepi ?

Untuk Lab Pemeriksaan Bali, pihaknya menggunakan skala prioritas. Yang jadi prioritas yakni pasien bergejala atau PDP, tenaga medis, kemuduan orang dalam pemantauan (PDP), baru orang tanpa gejala.

Ia menambahkan Lab Pemeriksaan Bali ini mulai mengerjakan spesimen Covid-19 pada 26 Maret 2020. Total hingga 8 Mei 2020, pihaknya telah mengerjakan spesimen sebanyak 4.722.

Sebelumnya pihaknya rata-rata per hari mampu mengerjakan 104 spesimen. Namun dalam 10 hari terakhir hampir mengerjakan 200 sampel per hari.

Hal ini setelah Bali memutuskan semua pekerja migran Indonesia yang baru tiba dari luar negeri dilakukan tes swab.

Selain kecepatan pemeriksaan, menurutnya kerja tim di Satgas Covid-19 Bali juga sangat kompak dengan kolaborasi yang baik dan komunikasi yang cepat.

"Satgas di Bali kerja kompak dan serius, untuk PMI misalnya meski datang tengah malam, kita tetap bekerja," katanya.
 

Sumber : Kompas.com , Historia.id

No comments:

Post a comment