FYI TRAVEL

Traveling Everydays

Breaking

Sunday, 3 May 2020

Terserang Penyakit Ketinggian 'AMS' di Everest Base Camp

Pendakian ke Everest Base Camp terasa sangat berat ketika bagian tersulit yang harus mereka hadapi yaitu bertahan melawan penyakit ketinggian atau Acute Mountain Sickness (AMS). Bagi para pendaki khususnya pendaki dari negara tropis (Asia Tenggara), AMS menjadi momok tersendiri, mereka harus bisa beradaptasi fisologis dan kondisi suhu tubuh dengan lingkungan sekitar (Aklimatisasi) yang ketinggian nya diatas 3.000 meter diatas permukaan laut.
Everest Base Camp (Pixabay.com)
Wartawan Tempo Bagja Hidayat membagikan kisahnya saat melakukan pendakian ke Everest Base Camp (EBC) 15 november lalu yang di muat dalam Majalah Tempo edisi 'Bersimpuh di Kaki Everest'.

Pada waktu itu Bagja menyatakan bukan dingin dan trek panjang yang menjadi momok para pendaki tetapi penyakit ketinggian yang menyerang siapa saja dan kapan saja.

"BUKAN dingin dan trek panjang menanjak yang menjadi momok para pendaki gunung-gunung Himalaya, tapi sakit kepala. Pusing akibat ketinggian dan kekurangan oksigen ini bisa menyerang siapa saja, pendaki dengan otot liat atau mereka yang ringkih karena berat badan. Acute mountain sickness (AMS) menyerang tak pandang bulu," tulis Bagja Hidayat di Majalah Tempo.

Bagja terserang AMS di Dingboche dengan ketinggian 4.450 mdpl, saat menuju Everest Base Camp (EBC) Nepal.

"AMS mengeremus saya di Dingboche, di ketinggian 4.450 meter dari permukaan laut, pada hari kelima perjalanan mendaki Gunung Everest dari Nepal lewat jalur selatan, 15 November lalu," tulisnya.

BACA JUGA : Orang Pertama Mencapai Puncak Hkakabo Razi : Aku Tidak Ingin Pernah Melakukannya Lagi

Saat itu ia merasakan Rumah, hotel, kafe, dan bukit-bukit yang membuat syahdu desa kecil ini menjadi terlihat ambyar. Kepala memberat, punggung seperti ditarik gravitasi, bumi serasa miring. "Saya berjuang keras menata pikiran yang oleng," kata dia.

Serangan kali ini berbeda kata Bagja dari pos sebelumnya, karena ia sempat kelelahan ketika menuju Lukla. Ia harus menempuh perjalanan darat memakai jip dari ibukota Nepal (Kathamandu) ke bandar udara Manthali selama 6 jam.

"Serangan kali ini berbeda dengan meriang di Phakding (2.650 meter). Pada hari pertama itu, agaknya, saya kelelahan setelah berjalan tiga jam dari Lukla. Dinihari sebelumnya, saya menempuh empat jam naik jip dari Kathmandu ke bandar udara Manthali, sambung pesawat kecil 25 menit ke Lukla. Malam sebelum naik jip, saya tak bisa tidur karena penginapan di Thamel, pusat turis di ibu kota Nepal, bersisian dengan pub yang memutar disko hingga subuh. Di Phakding, meriang dan kerigidan sendi hilang setelah saya tidur satu jam," tulis Bagja.

Di Dingboche, sakit kepala saya tak hilang meski sudah rebahan serta minum pereda sakit dan segelas lemon-madu. Di kamar Khumbu Hotel, tempat saya menginap, terpacak pengumuman dan tip jika terserang AMS. Apabila minum obat tak mempan, selebaran itu menyarankan penderita turun ke tempat lebih rendah. AMS muncul karena tubuh gagal beradaptasi dengan altitud dan oksigen yang menipis.

BACA JUGA : Saat Terjadi Kemacetan di Everest

Namun ia tidak mau menyerah terus melawan kepala sakit sialan itu, tanggung tinggal 2 pos lagi sampai di Everest Base Camp (EBC).

"Tapi saya sudah di sini. Everest Base Camp, yang menjadi tujuan perjalanan ke Himalaya, tinggal dua pos lagi. Jika bisa melawan sakit kepala sialan ini, saya akan tiba di kaki puncak gunung tertinggi di planet ini untuk pertama kali dalam hidup saya yang 42 tahun, dua hari ke depan. Saya tak ingin menyerah," tulis Bagja yang berkawan seperjalan ke Everest dengan Rocky Gerung itu.

Ajaib. Setelah pikiran itu melintas, tubuh saya lebih tenang, pandangan yang renyai mulai fokus, sakit kepala berangsur hilang. Benar kata Sir Edmund Hillary. Dalam buku Conquering Everest (2011), pendaki Selandia Baru ini mengatakan kepada Tenzing Norgay, sherpa yang menemaninya menjadi manusia pertama mencapai pucuk 8.848 meter pada 29 Mei 1953 itu, bahwa naik gunung adalah urusan psikologi. "Bukan gunung ini yang kita taklukkan, Tapi diri kita sendiri."

Solusi Mengatasi Acute Mountain Sikcness (AMS)

Menurut Mountain Guide Expedition Rahman Muchlis, gejala dan levelnya AMS masih terbagi menjadi tiga kategori yakni AMS ringan, AMS sedang dan AMS berat.

Rahman menjelaskan bahwa sebanyak 75 persen kasus yang ada, AMS ringan biasanya terjadi pada saat pendaki memasuki ketinggian 3.000 - 4.000 mdpl.

Gejala munculnya AMS ringan biasanya muncul 12-24 jam setelah pendaki tiba di ketinggian tersebut. Gejala yang muncul biasanya berupa sakit kepala, mual, kehilangan nafsu makan, sesak nafas, tidur terganggu, dan lain sebagainya.

Solusi untuk mengatasi hal ini adalah pendaki harus tetap sadar dan tetap melakukan aktivitas ringan. "Disarankan untuk tidak langsung tidur jika mengalami gejala tersebut," kata Rahman mengutip Kompas.com

BACA JUGA : Mencairnya Gletser di Himalaya Sangat Membahayakan

Sementara AMS sedang, lanjut Rahman, akan menyerang pendaki jika gejala pada AMS rendah tidak teratasi dengan baik. Biasanya gejala yang muncul pada AMS sedang, pendaki akan merasakan sakit kepala parah, mual disertai muntah, penurunan kesadaran (ataksia), dan lain sebagainya.

Solusi jika pendaki mengalami gejala-gejala tersebut, segeralah turun ke tempat yang lebih rendah untuk proses penyesuaian ketinggian atau aklimatisasi.

"Hal ini harus dilakukan untuk menghindari gejala ataksia mencapai titik puncaknya di mana si penderita tidak akan bisa berjalan dengan normal," ujar Rahman.

Rahman melanjutkan, AMS berat terjadi ketika si penderita mengalami sesak nafas dan kehilangan kesadaran total (penurunan status mental). Dalam kasus ini, pendaki tersebut sudah tidak sadarkan diri dan harus segera ditandu menuju tempat yang lebih rendah dan harus ditangani serius oleh petugas medis.

"Sebenarnya untuk menghindari penyakit AMS cukup simpel. Pada saat mendaki, biasakan untuk berjalan sesuai ritme, tidak terburu-buru atau tergesa-gesa. Hal ini berguna bagi tubuh membiasakan ketinggian atau aklimatisasi. Sehingga kerja tubuh juga tetap berjalan dengan normal," saran Rahman.

Sumber : Tempo.co , Kompas.com

No comments:

Post a comment